DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Musim angin kencang yang kerap disertai hujan, oleh warga Madura dikenal dengan istilah “Beret Kabelluh”. Pada masa ini, hempasan angin bertiup sangat kuat dan biasanya berlangsung hingga sepekan.
Fenomena alam tersebut umumnya terjadi saat tanaman jagung mulai berbiji muda, masa yang oleh warga disebut sebagai saat paling “enak-enaknya” untuk dibakar. Sementara itu, tanaman padi mulai memunculkan bunga awal sebagai pertanda akan segera berisi bulir.
Di tengah kondisi cuaca seperti itu, masyarakat desa justru memiliki kebiasaan khas. Saat angin menderu kencang, mereka memilih duduk santai dengan lutut ditekuk—atau dalam istilah Madura disebut “ajerukkong apukok sarong”—di depan tungku tradisional yang berada di dapur sederhana berbahan gubuk bambu.
Sambil menghangatkan diri, jagung-jagung muda dibakar di atas bara api. Tak ketinggalan, kopi hitam diseduh untuk melengkapi suasana. Asap jagung bakar dan uap kopi hangat perlahan memenuhi dapur, menciptakan kehangatan di tengah dinginnya angin dan hujan.
Wajah-wajah bahagia pun tampak jelas. Mereka menikmati jagung bakar sembari sesekali menyeruput kopi hitam dari cangkir-cangkir lawas. Gemuruh angin yang menghantam atap dan dinding rumah seolah tak lagi terasa, tergantikan oleh rasa nikmat dan kebersamaan.
Kebiasaan sederhana ini menjadi potret kehidupan desa yang jarang ditemui di wilayah perkotaan. Jika masyarakat kota menghadapi musim angin dengan kewaspadaan tinggi dan rasa cemas, warga desa Madura justru menyikapi Beret Kabelluh dengan ketenangan, keakraban, dan rasa syukur atas kebersamaan yang tercipta.
Pecinta Kopi Hitam
