Kebiasaan Raja Jawa dalam Ungkapan “Apa yang Dilakukan Tangan Kanan, Tangan Kiri Tak Boleh Tahu”

oleh
oleh
Ilustrasi

DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Dalam tradisi kepemimpinan Jawa, dikenal sebuah laku atau kebiasaan yang sarat makna: apa yang dilakukan tangan kanan, tangan kiri tak boleh tahu. Ungkapan ini bukan sekadar pepatah, melainkan bagian dari falsafah kekuasaan yang diwariskan turun-temurun oleh para raja Jawa dalam menjalankan pemerintahan.

Makna utama dari falsafah ini adalah kerahasiaan, kehati-hatian, dan pengendalian diri dalam mengambil keputusan. Seorang raja atau pemimpin dituntut mampu menyimpan rencana, strategi, bahkan kebaikan yang dilakukannya tanpa perlu dipertontonkan kepada semua pihak. Tidak semua kebijakan harus diketahui oleh setiap orang, terlebih jika hal tersebut berpotensi menimbulkan konflik, kecemburuan, atau kegaduhan politik.

Dalam konteks pemerintahan kerajaan Jawa, filosofi ini juga mencerminkan manajemen kekuasaan yang rapi dan terukur. Raja sering kali memiliki lingkar dalam dengan tugas dan peran berbeda. Tangan kanan dan tangan kiri adalah simbol para pembantu kepercayaan, namun masing-masing tidak selalu mengetahui seluruh agenda atau keputusan raja. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas, mencegah kebocoran rahasia negara, serta menghindari perebutan pengaruh di lingkungan istana.

Selain itu, falsafah ini juga mengandung nilai keikhlasan dan kerendahan hati. Dalam pandangan Jawa, kebaikan sejati tidak perlu diumbar. Ketika seorang pemimpin memberi pertolongan, mengambil risiko, atau melakukan pengorbanan, hal itu cukup diketahui oleh dirinya dan Tuhan. Semakin sunyi sebuah perbuatan baik, semakin tinggi nilai luhurnya.

Meski lahir dari tradisi kerajaan, ajaran ini tetap relevan hingga kini. Dalam kepemimpinan modern, filosofi “tangan kanan tangan kiri tak boleh tahu” dapat dimaknai sebagai profesionalisme, etika, dan kebijaksanaan dalam mengelola kekuasaan. Tidak semua proses harus diekspos, namun hasilnya harus berpihak pada kemaslahatan rakyat.
Pada akhirnya, kebiasaan raja Jawa ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa keras ia berbicara, melainkan seberapa dalam ia mampu menyimpan rahasia dan bertindak dengan penuh perhitungan.

Pecinta Kopi Hitam