“Lakone Lakona”: Falsafah Hidup Petani di Pelosok Desa

oleh
oleh
Ilustrasi

Di sebuah pelosok desa, hiduplah seorang petani yang dikenal tangguh dan ulet. Hampir setiap hari hidupnya dihabiskan di tengah sawah. Karena kegigihannya itulah, warga sekitar menjulukinya “Haji Balap”—sebuah panggilan yang lahir dari rasa hormat atas kerja keras dan ketekunannya sebagai petani.

Rasa penasaran mendorong saya untuk mengenalnya lebih dekat. Pada suatu kesempatan, saya akhirnya bisa menemuinya dan berbincang santai.

Percakapan mengalir membahas banyak hal, hingga saya menanyakan satu hal mendasar: apa yang membuatnya begitu antusias bertani sepanjang hidupnya?
Ia bercerita, di musim penghujan ia menanam padi, jagung, cabai, serta beragam sayur-mayur. Sementara saat musim tembakau tiba, ia beralih menanam tembakau—bahkan dikenal sebagai petani dengan lahan tembakau terluas di daerah itu. Baginya, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan hidup dari orang tuanya.

Sejak kecil, ia memang tidak pernah dididik secara formal tentang pertanian. Namun, ia tumbuh dengan melihat langsung bagaimana kedua orang tuanya bekerja di sawah. Ia ingat betul saat diminta membantu membawa bajak, mengangkat bibit, atau sekadar menemani orang tuanya ke sawah. Ketika musim panen tiba, ia turut memanen padi dan jagung. Dari situlah, tanpa disadari, ilmu bertani meresap dengan sendirinya.

Ketika kedua orang tuanya meninggal dunia, ia melanjutkan pertanian keluarga sebagaimana yang telah dicontohkan. Sejak saat itu, ia konsisten menekuni dunia pertanian hingga hari ini—tanpa pernah berpaling.

Pembicaraan kami berlanjut pada soal penghasilan. Dengan nada sederhana, ia mengaku bersyukur. Ia tidak pernah menghitung secara matematis berapa keuntungan yang diperoleh karena tidak memiliki pengetahuan pengelolaan keuangan. Namun satu hal yang ia yakini: bertani telah mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Dari hasil sawah, ia mampu menunaikan ibadah haji, membeli puluhan ekor sapi ternak, serta memiliki berbagai aset penting lainnya. Semua itu, katanya, murni dari keringatnya sendiri sebagai petani.

Saya kemudian bertanya lebih jauh, apakah kesuksesan itu pernah dibantu oleh pihak lain, misalnya pemerintah melalui bantuan alat pertanian, bibit, modal, atau program lainnya.

Jawabannya cukup mengejutkan. Ia menegaskan bahwa sejak pertama kali belajar bertani, ia tidak pernah menerima bantuan sepeser pun. Semuanya dilakukan secara mandiri.

“Sengkok tak mau tahu urusan pamarenta, Cong. Sengkok atani dibik di lahan dibik. Ngakan, ngakan dibik. Tak rokronoaah urusan pamarenta. Engkok tak buto bentoan, sepenting sehat pakkun ateneh,” ujarnya lugas.

Saya pun mencoba mengorek pandangannya tentang kehadiran pemerintah. Saya bertanya apakah ia mengetahui siapa bupati saat ini atau wakil rakyat di daerah pemilihannya. Dengan polos ia menjawab, “Sengkok tak tao Cong sapaa peih bupatina ben diwenna. Tina apa caan reng attas la, engkok ataneah beih.”

Lalu, ke mana hasil pertaniannya dijual? Menurutnya, urusan menjual hasil panen sangatlah mudah. Ia bisa menjual ke pasar, atau pembeli justru datang langsung ke rumah. “Tak malarat Cong. Mun ka ajueleh, keng arkena jie. Kuun se kadeng masakek, cetak ye pasanber jie,” katanya pasrah.

Menjelang akhir perbincangan, ia menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna. Hidup, katanya, tidak perlu dibuat terlalu rumit. Jalani saja dengan sungguh-sungguh: bekerja, berusaha, bersabar, dan bertawakal. “Lakone lakona, jeleni kennengenna, sokkore, usaha, sabar, tawakkal jie la samporna odik, Cong,” tuturnya sambil beranjak kembali ke sawah—melanjutkan rutinitas yang telah ia tekuni sepanjang hidupnya.

Pecinta Kopi Hitam