DAMAIRA.CO.ID-Bersyukur sering kali diucapkan, namun tidak selalu benar-benar dihayati. Kata “Alhamdulillah” kerap keluar dari lisan, tetapi maknanya belum tentu meresap ke dalam kesadaran. Padahal, bersyukur bukan sekadar respons atas kebahagiaan, melainkan sikap batin dalam menyikapi seluruh perjalanan hidup—baik saat lapang maupun sempit.
Secara sederhana, bersyukur berarti menyadari dan mengakui nikmat yang diterima. Namun pada tingkat yang lebih dalam, bersyukur adalah kemampuan melihat makna di balik setiap keadaan.
Ia bukan hanya tentang menerima yang menyenangkan, tetapi juga memahami bahwa di balik kesulitan pun terdapat pelajaran dan kebaikan yang sering kali tersembunyi.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia mudah terjebak dalam logika perbandingan. Media sosial, capaian materi, dan standar kesuksesan kerap membuat seseorang lupa pada apa yang telah dimiliki. Di sinilah bersyukur menjadi penyeimbang batin.
Ia mengajarkan untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang belum tercapai, melainkan juga tentang apa yang telah dianugerahkan.
Bersyukur juga tidak berarti pasrah tanpa usaha. Justru, orang yang bersyukur adalah mereka yang tetap berikhtiar sambil menyadari keterbatasannya sebagai manusia. Ia bekerja keras tanpa kesombongan, dan menerima hasil dengan lapang dada. Ketika berhasil, ia tidak lupa berbagi. Ketika gagal, ia tidak larut dalam putus asa.
Dalam perspektif spiritual, bersyukur memiliki dimensi yang lebih luas. Ia menjadi jembatan antara manusia dan Tuhan. Syukur bukan hanya diucapkan dengan kata-kata, tetapi diwujudkan melalui sikap hidup: menggunakan nikmat untuk kebaikan, menjaga amanah, serta tidak menyalahgunakan apa yang telah dipercayakan.
Lebih jauh, bersyukur melatih kepekaan sosial. Orang yang mampu mensyukuri hal kecil akan lebih mudah berempati pada sesama. Ia tidak merasa paling kekurangan, juga tidak merasa paling berlebih. Dari sikap inilah lahir kerendahan hati dan kepedulian yang tulus.
Pada akhirnya, bersyukur adalah seni hidup. Ia tidak menghapus masalah, tetapi membuat hati lebih kuat dalam menghadapinya. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa luka, namun mengajarkan cara merawat jiwa agar tetap utuh. Dengan bersyukur, manusia belajar bahwa kebahagiaan bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa dalam ia mampu menghargai apa yang ada.
Pecinta Kopi Hitam
