Oleh: Moh. Rasul Junaidy
Jurnalis Senior
DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Hari ini,
Jumat 5 Juni 2026.
Tak terasa usia saya 55 tahun.
Saya lahir 5 Juni 1971.
Angka itu terasa biasa saja ketika ditulis.
Hanya dua digit.
Tidak lebih.
Tetapi ketika dijalani,
55 tahun ternyata sangat panjang.
Panjang sekali.
Panjang untuk sekadar disebut perjalanan hidup.
Di usia ini
saya sering duduk sendiri.
Bukan untuk menghitung apa yang sudah saya miliki.
Justru untuk mengingat apa saja yang pernah saya lewati.
Ternyata…
Hidup tidak sesederhana itu.
Ada jalan yang saya kira lurus mendadak berbelok.
Ada pintu yang saya yakin akan terbuka ternyata terkunci rapat.
Ada impian yang sudah saya kejar bertahun-tahun
ternyata berhenti begitu saja di tengah perjalanan.
Ada keinginan yang saya perjuangkan mati-matian
tetapi Allah berkehendak lain.
Dulu…
saya kecewa
Sekarang…
saya mengerti
Ternyata…
Tidak semua yang gagal itu buruk.
Tidak semua yang berhasil itu baik.
Ada kegagalan yang justru menyelamatkan hidup kita
dari kesalahan yang lebih besar.
Ada keberhasilan yang justru membuat manusia lupa diri.
Usia mengajarkan itu.
Ketika muda saya mengira hidup ditentukan oleh
kecerdasan,
kerja keras,
dan keberanian mengambil keputusan.
Ketika memasuki usia 55 tahun,
saya baru menyadari bahwa ada satu unsur
yang jauh lebih besar dari semuanya, semua ada
campur tangan Allah.
Ia bekerja tanpa suara.
Ia tidak selalu terlihat.
Tetapi jejaknya ada di mana-mana.
Pada pertemuan yang tidak direncanakan.
Pada pertolongan yang datang tiba-tiba.
Pada musibah yang ternyata menyelamatkan.
Pada kehilangan yang kemudian membuka pintu kebahagiaan lain.
Dulu…
Saya sering bertanya kepada Allah
“Mengapa?”
Mengapa ini terjadi?
Mengapa harus saya?
Mengapa bukan orang lain?
Sekarang…
Pertanyaan itu mulai berkurang.
Saya lebih sering berkata “Terima kasih”
Terima kasih atas yang diberi.
Terima kasih atas yang diambil.
Terima kasih atas yang datang.
Terima kasih atas yang pergi.
Sebab, banyak hal yang dulu tidak saya pahami
sekarang perlahan menemukan jawabannya sendiri.
Hidayah juga begitu.
Dulu saya membayangkan hidayah datang
seperti petir yang
menyambar langit.
Seperti cahaya yang tiba-tiba menerangi seluruh kehidupan.
Ternyata tidak!
Hidayah sering datang dengan sangat sederhana.
Melalui nasihat seorang sahabat.
Melalui perjumpaan dengan orang baik.
Melalui kegagalan yang memaksa kita
menundukkan ego.
Melalui air mata yang jatuh saat tidak ada seorang pun yang melihat.
Allah punya banyak cara untuk mengetuk
hati manusia.
Dan setiap orang menerima ketukan itu dengan cara yang berbeda.
Semakin bertambah usia semakin saya sadar
bahwa hidup bukan perlombaan mengumpulkan
sebanyak mungkin
harta,
jabatan, atau p
ujian.
Semua itu ada batasnya.
Semua itu akan ditinggalkan.
Yang tersisa hanyalah
amal kebaikan dan kenangan
tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Saya mengira keberhasilan adalah
Soal pencapaian,
Soal jabatan,
Soal pengaruh,
Soal pengakuan,
Soal popularitas.
Hari ini ukuran itu berubah.
Saya melihat banyak orang yang memiliki segalanya
tetapi hidupnya tidak tenang.
Sebaliknya saya melihat orang sederhana
tetapi wajahnya selalu teduh.
Di situlah saya belajar
bahwa ketenangan
ternyata tidak dijual
di mana-mana.
Ia lahir dari hati
yang menerima.
Menerima ketentuan Allah.
Menerima kekurangan
diri sendiri.
Menerima bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Pada usia 55 tahun,
saya tidak lagi memiliki ambisi untuk terlihat hebat.
Saya tidak lagi ingin menjadi siapa-siapa.
Saya hanya ingin menjadi seseorang yang bermanfaat.
Ya bermanfaat
Bagi keluarga.
Bagi istri.
Bagi anak-anak.
Bagi saudara.
Bagi sahabat.
Bagi siapa saja yang Allah izinkan hadir dalam perjalanan hidup saya.
Jika bisa membantu orang lain saya bersyukur.
Jika bisa membuat orang lain tersenyum saya bahagia.
Jika masih diberi kesempatan beribadah dengan baik,
itu nikmat dan anugerah yang luar biasa.
Waktu juga terasa
berbeda sekarang.
Dulu satu tahun
terasa panjang.
Kini satu tahun terasa seperti beberapa minggu.
Hari berganti terlalu cepat.
Bulan berlalu tanpa terasa.
Tiba-tiba rambut memutih.
Tiba-tiba anak-anak
tumbuh dewasa.
Tiba-tiba usia berada
di angka yang dulu ketika muda
terasa sangat jauh.
Karena itu…
Saya tidak lagi ingin menyia-nyiakan waktu.
Saya ingin lebih banyak bersyukur
daripada mengeluh.
Lebih banyak muhasabah
daripada menyalahkan orang lain.
Lebih banyak bermunajat daripada berdebat.
Lebih banyak mendekat kepada Allah
daripada sibuk mengejar dunia yang tidak pernah selesai.
Pada akhirnya hidup ini bukan soal seberapa tinggi kita pernah berdiri.
Bukan pula seberapa terkenal nama kita.
Yang paling penting adalah apakah selama hidup
kita pernah menjadi alasan kebaikan bagi orang lain?
Di usia 55 tahun ini.
Saya semakin yakin bahwa
Tidak ada peristiwa
yang kebetulan.
Tidak ada luka yang sia-sia.
Tidak ada air mata yang percuma.
Semua adalah bagian dari cara Allah mendidik manusia.
Jika hari ini saya masih
diberi umur.
Masih diberi kesehatan.
Masih diberi kesempatan untuk berbuat baik.
Maka itulah hadiah terbesar yang bisa saya syukuri.
Sebab, semakin jauh perjalanan ini berlangsung,
semakin jelas saya melihat satu kenyataan.
Sejak awal saya tidak pernah berjalan sendirian.
Ada Allah yang selalu membersamai.
Menuntun ketika
saya tersesat.
Menguatkan ketika
saya lemah.
Mengangkat ketika
saya jatuh.
Bahkan pada saat-saat ketika
saya merasa paling
jauh dari-Nya.
Dan mungkin Itulah pelajaran paling berharga
yang saya temukan di usia
55 tahun.
Bahwa hidup ini bukan tentang seberapa kuat
saya melangkah.
Melainkan tentang betapa sabarnya Semesta menuntun saya sampai sejauh ini.
