DAMAIRA.CO.ID-Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, KH. Anwar Zahid, menyoroti bahaya kepintaran yang tidak dibarengi akhlak. Dalam ceramahnya yang diunggah kanal YouTube Kurnia FM, beliau menegaskan bahwa pendidikan harus memadukan “Iqro” dan “Bismirobbik”.
“Bismirobbik harus dipadukan dengan Iqro. Kalau Iqro tanpa Bismirobbik, jadinya pinter tapi nggak bener. Kalau Bismirobbik tanpa Iqro, mungkin bener tapi nggak pinter. Yang paling parah, Iqro-nya nggak, Bismirobbik-nya juga nggak. Itu _oon kuadrat,” ujar KH. Anwar Zahid.
Ahli Jadi Sumber Kerusakan
Menurut beliau, kerusakan tatanan bangsa saat ini justru dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya.
“Yang merusak hukum di negeri ini adalah orang-orang yang ahli hukum. Yang merusak perekonomian adalah orang-orang yang ahli ekonomi. Termasuk orang pajak sendiri,” tegasnya.
KH. Anwar Zahid juga menyinggung praktik korupsi. “Yang menghabiskan duit negara, jatahnya rakyat, itu orang bodoh apa orang pintar? Orang bodoh itu pengin, tapi nggak ngerti caranya dan nggak ada kesempatan.”
Ia bahkan bersumpah di malam Nuzul Qur’an. “Demi Allah, yang merusak hutan di Indonesia ini bukan orang utan. Yang merusak laut juga bukan anjing laut. Yang merusak adalah orang-orang yang pintar, tapi moralnya lebih bejat daripada binatang.”
“Lebih bahaya mana, maling bodoh sama maling pinter? Yang mencuri triliunan. Itu loh, kemana-mana masih dipanggil ‘Yang Mulia’, ‘Yang Terhormat’, padahal maaf, mereka bajingan,” katanya disambut tawa jamaah.
Fakultas Banyak, Tapi…
KH. Anwar Zahid menilai Indonesia tidak kekurangan lulusan pintar. Setiap tahun perguruan tinggi melahirkan ribuan sarjana. Namun yang langka adalah orang benar.
“Kita sering sampaikan, kalau sekedar pengin pinter ekonomi gampang. Banyak Fakultas Ekonomi. Tapi belum ada Fakultas Kesejahteraan, Fakultas Kemakmuran,” ujarnya.
Hal yang sama terjadi di bidang lain. “Pengen pinter pendidikan? Banyak Fakultas Pendidikan. Tapi nggak ada Fakultas Kesabaran. Pengen jadi ahli hukum? Banyak Fakultas Hukum. Tapi nggak ada Fakultas Kejujuran, nggak ada Fakultas Keadilan. Makanya jangan heran ada ahli hukum kesandung kasus hukum, jadi makelar hukum, jual-beli hukum.”
Beliau juga menyinggung dunia dakwah. “Kalau pengin pinter dakwah, gampang. Banyak Fakultas Dakwah. Tapi nggak ada Fakultas Keikhlasan. Makanya ada orang ceramah 2 jam soal keikhlasan, pulang nggak dikasih apa-apa sama panitia karena dia bukan lulusan Fakultas Keikhlasan.”
Bahkan beliau bergurau menyinggung pejabat. “Pak Menteri, Pak Nusron, mohon dengan sangat hormat. Malam ini keikhlasan saya jangan diuji, karena saya bukan lulusan Fakultas Keikhlasan.”
Kunci: Al-Hikmah Wal Barokah
Di akhir ceramah, KH. Anwar Zahid menutup dengan pesan inti.
“Iqro itu melahirkan intelektualitas. Banyak orang sukses jadi tokoh hebat. Tapi bukan karena Iqro-nya saja, tapi karena Bismirobbik-nya. Inilah yang melahirkan _Al-Hikmah Wal Barokah_,” pungkasnya.
Ceramah tersebut menjadi pengingat bahwa bangsa ini tidak cukup hanya mencetak generasi cerdas. Generasi yang cerdas harus sekaligus berakhlak, jujur, dan bertakwa agar tidak menjadi sumber kerusakan baru.
Wallahu a’lam bish-shawab.






