DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep terus memperkuat upaya pencegahan dan penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui peningkatan cakupan skrining bayi baru lahir.
Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi Skrining Bayi Baru Lahir kepada Ibu Hamil dan Kader yang digelar di Balai Desa Lalangon, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan yang menyasar kader, ibu hamil, dan bidan desa itu dilaksanakan oleh Tim Kerja Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Bidang Kesehatan Masyarakat.
Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya skrining bayi baru lahir melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi Bayi Baru Lahir. Pemeriksaan ini menjadi bagian penting dari upaya deteksi dini terhadap berbagai gangguan kesehatan yang berpotensi membahayakan bayi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, drg. Ellya Fardasah, M.Kes, menegaskan bahwa skrining bayi baru lahir merupakan langkah preventif yang penting untuk mengetahui kondisi kesehatan bayi sejak awal.
“Skrining bayi baru lahir sangat penting sebagai upaya deteksi dini. Dengan mengetahui adanya gangguan kesehatan sejak awal, tenaga kesehatan dapat mengambil langkah penanganan lebih cepat sehingga risiko terhadap kesehatan dan keselamatan bayi dapat ditekan,” ujar Ellya.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan tidak hanya tenaga kesehatan, tetapi juga ibu hamil, keluarga, dan kader di tingkat desa.
“Kami berharap ibu hamil dan keluarga memahami bahwa pemeriksaan bayi setelah lahir bukan sekadar prosedur, tetapi merupakan bagian dari perlindungan terhadap kesehatan dan masa depan anak. Karena itu, dukungan keluarga dan peran kader sangat dibutuhkan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, ibu hamil diberikan edukasi mengenai berbagai gangguan bawaan tersembunyi yang dapat membahayakan bayi apabila tidak diketahui dan ditangani sejak dini.
Ibu hamil juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya kesiapan psikologis untuk menyetujui pemeriksaan medis bagi bayinya. Salah satu pemeriksaan yang ditekankan adalah pengambilan sampel darah melalui tumit bayi.
Pengambilan sampel darah tersebut idealnya dilakukan ketika bayi berusia 24 hingga 72 jam setelah lahir. Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu menemukan gangguan kesehatan tertentu sedini mungkin sehingga dapat segera ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan.
Sementara bagi kader, sosialisasi diarahkan untuk memperkuat peran mereka sebagai agen edukasi kesehatan di masyarakat. Kader diharapkan mampu menjadi penghubung informasi antara tenaga medis dengan masyarakat, khususnya di tingkat RT/RW dan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).
Kader juga didorong membantu mengidentifikasi dan mendata ibu hamil di wilayahnya yang sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL). Pendataan tersebut penting agar pelaksanaan skrining bayi baru lahir dapat dipersiapkan dengan baik.
Ellya menambahkan, kader memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Kader adalah salah satu ujung tombak edukasi kesehatan di masyarakat. Kami berharap kader aktif memberikan informasi yang benar kepada ibu hamil dan keluarga, termasuk memotivasi orang tua agar tidak menolak skrining yang penting bagi kesehatan bayinya,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Dinkes Sumenep berharap kesadaran ibu hamil, keluarga, kader, dan masyarakat terhadap pentingnya skrining bayi baru lahir semakin meningkat.
Peningkatan cakupan skrining diharapkan mampu memperkuat deteksi dini gangguan kesehatan pada bayi sekaligus menjadi bagian dari strategi menekan Angka Kematian Bayi di Kabupaten Sumenep.






