DAMAIRA.CO.ID, SUMEMEP-Ada sebuah kalimat dalam Al-Qur’an yang sejak lama saya yakini, tetapi baru benar-benar saya rasakan maknanya pada musim haji tahun 1447 Hijriah.
“Min haitsu la yahtasib.” Dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.
Kalimat itu bukan sekadar rangkaian ayat yang sering didengar dalam ceramah. Kalimat itu benar-benar menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Saya adalah M. Hariri. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Jurnalis TV9 Nusantara yang bertugas di Kabupaten Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur. Rutinitas saya sederhana. Hampir setiap hari mengejar narasumber, meliput berbagai peristiwa, menulis berita, mengirim video, lalu kembali bersiap untuk liputan berikutnya.
Sebagai wartawan daerah, saya terbiasa bekerja jauh dari sorotan. Liputan tentang pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya, hingga berbagai persoalan masyarakat menjadi makanan sehari-hari. Saya menikmati pekerjaan itu. Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa suatu hari saya akan berada ribuan kilometer dari kampung halaman, mengenakan identitas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Kalau ditanya apakah pernah bercita-cita menjadi petugas haji, jawabannya sederhana: tidak! Bahkan bermimpi pun tidak.
Semua bermula pada hari Rabu, 10 Desember 2025. Saat itu saya sedang duduk di Sekretariat Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) bersama Bendahara saya Fathol Alif. Telepon dari kantor Tv9 berbunyi. Dari ujung sambungan, saya mendapat informasi yang sama sekali tidak saya duga. Saya diminta mendaftarkan diri sebagai calon petugas haji pada Tusi Media Center Haji.
Saya sempat terdiam.
“Benarkah saya?” pertanyaan itu terus berputar di kepala.
Saya hanyalah wartawan daerah. Bertugas di Sumenep. Tidak bekerja di ibu kota. Tidak setiap hari bertemu pejabat pusat. Rasanya kesempatan itu begitu jauh dari jangkauan saya.
Namun kesempatan itu benar-benar datang.
Telepon itu tak langsung saya jawab “ya”. Saya meminta izin untuk berkonsultasi dengan ibu dan istri perihal tawaran itu.
Setelah menelepon dua orang yang paling saya sayangi, saya mendapatkan dukungan dan doa dari keduanya. Saat itulah semangat mulai tumbuh. Saya pun segera menghubungi kembali koordinator liputan TV9 untuk menyatakan kesiapan mendaftar.
Tanpa berpikir panjang, saya mulai menyiapkan seluruh persyaratan administrasi. Berkas demi berkas saya lengkapi. Semua proses saya jalani dengan sungguh-sungguh. Di dalam hati, saya hanya berniat mencoba. Soal hasil, saya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Tahapan seleksi berlangsung di Jakarta.
Di sinilah ujian pertama dimulai.
Saat mengikuti tes tertulis dan wawancara, telepon dari rumah datang membawa kabar yang membuat hati saya tidak tenang. Anak kedua saya sedang sakit.
Sebagai seorang ayah, naluri saya ingin segera pulang. Ingin berada di samping anak. Namun pada saat yang sama saya sedang berada dalam tahapan seleksi yang tidak mungkin ditinggalkan begitu saja.
Hari itu menjadi salah satu hari terberat dalam hidup saya.
Saya berusaha menenangkan hati. Saya selesaikan seluruh rangkaian tes. Setelah itu saya bergegas mencari transportasi agar bisa segera kembali ke Sumenep.
Rupanya ujian belum selesai. Travel yang saya tumpangi tidak berjalan sesuai jadwal. Terjadi keterlambatan hingga perjalanan menjadi jauh lebih lama dari yang seharusnya. Saya hanya bisa memandang keluar jendela kendaraan sambil terus memikirkan kondisi anak di rumah.
Sesampainya di Sumenep, saya hanya sempat beristirahat semalam. Keesokan harinya, anak saya harus dibawa ke rumah sakit karena kondisinya semakin menurun.
Di ruang rumah sakit itulah saya kembali belajar tentang arti berserah diri. Saya sadar, ada banyak hal yang berada di luar kemampuan manusia. Yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha, berdoa, dan mempercayakan semuanya kepada Allah SWT.
Saat sedang menjaga anak di rumah sakit, istri saya tiba-tiba berbisik, “kayaknya Abi bakalan lulus.” Namun pernyataan itu saya anggap sebagai kalimat penyemangat saja.
Hari-hari berikutnya saya jalani seperti biasa. Saya kembali bekerja sebagai wartawan. Tidak banyak berpikir tentang hasil seleksi. Saya mencoba mengikhlaskan apa pun keputusan yang nantinya diberikan.
Hingga pada akhir Desember 2025, kabar yang tidak pernah saya bayangkan benar-benar datang.
Pagi-pagi, saat saya jalan santai bersama anak pertama, tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk dari Kemenhaj. Saya dinyatakan lulus.
Rasanya sulit menggambarkan perasaan saat itu.
Bahagia.
Terharu.
Tidak percaya.
Saya membaca pengumuman itu berkali-kali hanya untuk memastikan bahwa saya tidak salah melihat nama.
Saya bersujud syukur.
Di dalam hati saya berkata, “ya Allah, benarkah Engkau memilih saya?”
Saya yakin, kelulusan itu bukan semata-mata karena kemampuan saya. Ada doa orang tua yang tidak pernah putus. Ada doa istri yang selalu menguatkan. Ada doa anak-anak, keluarga, para sahabat, rekan-rekan wartawan di Sumenep, dan semua orang yang diam-diam berharap saya mendapat kesempatan itu.
Bagi saya, menjadi petugas haji bukanlah sebuah prestasi. Ini adalah amanah. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada negara, tetapi juga kepada Allah SWT.
Setelah dinyatakan lulus, saya mengikuti pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Saya mulai bertemu dengan ratusan calon petugas dari berbagai daerah di Indonesia. Ada dokter, perawat, pembimbing ibadah, petugas transportasi, petugas perlindungan jemaah, petugas akomodasi, hingga rekan-rekan Media Center Haji.
Di sanalah saya menyadari bahwa kami semua datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: melayani tamu-tamu Allah.
Pelatihan berlangsung padat.
Fisik diuji.
Mental diuji.
Disiplin diuji.
Setiap hari dipenuhi materi pelayanan, simulasi lapangan, koordinasi, hingga berbagai pembekalan teknis.
Di tengah padatnya kegiatan itu, ujian kembali datang. Telepon genggam yang menjadi alat kerja utama saya tiba-tiba terjatuh hingga rusak. Padahal hampir seluruh komunikasi, materi pelatihan, dan koordinasi dilakukan melalui perangkat tersebut.
Sempat muncul rasa panik. Namun saya kembali mencoba tenang. Setelah mencari tempat servis, alhamdulillah telepon itu berhasil diperbaiki dalam waktu satu hari.
Saya kembali melanjutkan pelatihan.
Saat itu saya mulai memahami satu hal. Setiap langkah menuju sebuah amanah ternyata selalu disertai ujian. Mungkin memang begitulah cara Allah mempersiapkan hamba-Nya.
Sampai di sini, saya belum tahu bahwa ujian-ujian yang lebih besar justru sedang menunggu di Tanah Suci.
—–
Bagian 2: Ketika Kamera Diletakkan, Saatnya Melayani Tamu Allah
Tanggal 18 Mei 2026 menjadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan.
Hari itu saya meninggalkan Indonesia menuju Arab Saudi sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 2026. Di dalam pesawat, berkali-kali saya bertanya kepada diri sendiri, “Benarkah saya sedang menuju Tanah Suci sebagai petugas haji?”
Rasanya masih sulit dipercaya. Seorang wartawan daerah dari Kabupaten Sumenep, kini mendapat amanah menjadi bagian dari Media Center Haji Daerah Kerja Bandara.
Sesampainya di Makkah dan Madinah, tidak ada waktu berlama-lama menikmati suasana kota Nabi. Kami langsung mengikuti orientasi lapangan, pembagian tugas, dan berbagai koordinasi menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia.
Beberapa hari kemudian, fase kedatangan gelombang pertama dimulai melalui Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah.
Di sinilah tugas utama kami dimulai.
Setiap hari kami meliput kedatangan jemaah, mengambil gambar, mewawancarai jemaah, menulis berita, mengirim foto dan video ke Indonesia, serta memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang cepat dan akurat mengenai penyelenggaraan ibadah haji.
Namun kenyataan di lapangan ternyata jauh berbeda dari yang saya bayangkan. Setelah liputan selesai dan berita dikirim, HP dan kamera sering kali kami letakkan. Mikrofon kami simpan.
Saat itulah identitas sebagai wartawan seolah berganti menjadi petugas pelayanan. Tanpa ada yang meminta, kami langsung bergabung dengan teman-teman dari bidang transportasi, perlindungan jemaah hingga layanan lansia dan disabilitas.
Kami menyambut jemaah yang baru turun dari pesawat. Ada yang menangis haru. Ada yang langsung bersujud syukur. Ada pula para lansia yang tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dari Indonesia.
Saat mereka membutuhkan bantuan, kami tidak lagi berpikir berasal dari bidang tugas yang berbeda. Yang kami tahu hanya satu: mereka adalah tamu Allah yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya.
Saya ikut mendorong kursi roda para lansia dari terminal menuju pavilion; membantu mengangkat tas mereka; menggandeng jemaah yang kesulitan berjalan; dan mengarahkan rombongan agar tidak terpisah.
Bahkan beberapa kali saya membantu menenangkan jemaah yang kebingungan karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Arab Saudi.
Semua dilakukan dengan spontan. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada rasa sungkan. Justru di situlah saya merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Saya menyadari, selama ini saya terbiasa meliput orang lain yang sedang mengabdi. Kini sayalah yang diberi kesempatan untuk mengabdi.
Fase kedatangan di Madinah berlangsung sekitar lima belas hari. Hampir setiap hari ritme kerja kami sama: berangkat ke bandara, meliput, mengirim berita, membantu pelayanan, kembali ke penginapan.
Kelelahan memang tidak bisa dihindari.Namun setiap melihat senyum para jemaah, rasa lelah itu seperti hilang begitu saja.
Setelah fase Madinah selesai, kami pun bergeser ke Jeddah. Tepatnya ke Bandara Internasional King Abdulaziz yang akan menjadi pusat kedatangan gelombang kedua jemaah Indonesia.
Irama pekerjaan kembali berulang. Namun tantangannya jauh lebih besar. Jumlah jemaah yang datang semakin banyak. Cuaca Jeddah lebih panas. Aktivitas bandara lebih padat.
Meski demikian, semangat teman-teman petugas justru semakin tinggi. Kami kembali bekerja tanpa mengenal sekat bidang tugas. Saya kembali ikut membantu mendorong kursi roda, mendampingi lansia, mengantar jemaah menuju bus, dan membantu mereka yang kesulitan membawa barang.
Ada satu pengalaman yang sampai sekarang masih membekas di ingatan saya. Seorang jemaah lansia ternyata tidak yakin kain ihramnya masih suci atau sudah terkena najis. Melihat kondisi tersebut, tanpa berpikir panjang, petugas daker bandara membantu menggantikan kain ihramnya.
Di kesempatan lain, saya juga mendapati jemaah yang sudah berihram tetapi masih memakai sepatu. Kami membantu mengganti dengan sandal agar ibadah yang dijalankan sesuai tuntunan.
Mungkin bagi sebagian orang itu pekerjaan sederhana. Namun bagi saya, itulah inti pelayanan. Kadang pelayanan bukan tentang pekerjaan besar, melainkan tentang membantu orang lain melakukan hal-hal kecil yang sangat berarti.
Semakin lama saya bertugas, semakin saya merasakan bahwa di Tanah Suci tidak ada lagi batas profesi. Dokter ikut mengangkat koper. Petugas transportasi membantu membagikan air mineral. Media Center ikut mendorong kursi roda. Petugas perlindungan jemaah membantu mengatur antrean. Semua bekerja sebagai satu keluarga besar. Semua memiliki tujuan yang sama; melayani para dhuyufurrahman-tamu-tamu Allah.
Di tengah kesibukan itu, saya sering merenung. Kalau saja dulu saya menolak mengikuti seleksi; memilih pulang saat mendengar anak sakit; atau menyerah ketika diterpa berbagai ujian, mungkin saya tidak akan pernah merasakan pengalaman luar biasa seperti ini.
Kini, saya semakin yakin bahwa Allah tidak hanya memilih seseorang datang ke Tanah Suci sebagai Jemaah. Tapi Allah juga memilih siapa yang diberi kesempatan melayani para jemaah. Dan kesempatan itu adalah nikmat yang tidak semua orang dapatkan.
Belum selesai kami menikmati ritme pelayanan di bandara, datang amanah berikutnya. Kami mendapat penugasan baru sebagai Satgas Arafah. Pekerjaan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Kami harus bersiap menuju puncak ibadah haji, sebuah fase yang bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menguji keikhlasan, kesabaran, dan ketahanan fisik setiap petugas.
Di titik inilah saya mulai memahami, bahwa menjadi petugas haji bukan sekadar bekerja. Menjadi petugas haji adalah perjalanan panjang untuk belajar melayani dengan hati.
—–
Bagian 3: Arafah, Muzdalifah, Mina, Ketika Amanah Menjadi Jalan Ibadah
Memasuki bulan Zulhijah, denyut Kota Makkah mulai berubah. Jalan-jalan semakin padat, jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia berdatangan, dan seluruh petugas mulai memasuki fase paling menentukan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Kami yang sebelumnya bertugas di Daerah Kerja Bandara mendapat amanah baru sebagai Satuan Tugas Arafah. Penugasan itu membawa kami menuju Markaz 49, salah satu markaz yang akan menampung sekitar 3.900 jemaah haji Indonesia dalam 26 tenda.
Pada pagi 7 Zulhijah, kami berangkat menuju Arafah. Begitu turun dari bus, tidak ada waktu untuk beristirahat. Bersama petugas dari berbagai unsur lainnya, kami langsung bekerja.
Di Markaz 49 baru tersapat 3 orang petugas termasuk saya. Satu per satu tenda kami periksa. Pendingin ruangan harus menyala. Kasur harus tersedia. Bantal dan selimut harus sesuai jumlah. Listrik harus berfungsi. Dan toilet harus siap digunakan.
Kami menghitung satu per satu isi setiap tenda. Tidak boleh ada yang terlewat. Meski matahari Arafah begitu menyengat dan suhu udara terus meningkat, tak seorang pun mengeluh. Kami memahami bahwa apa yang kami lakukan hari itu akan menentukan kenyamanan ribuan jemaah saat menjalani wukuf.
Setelah seluruh perlengkapan dipastikan lengkap, kami melanjutkan pekerjaan berikutnya, yaitu menempelkan daftar nama jemaah di setiap tenda. Tujuannya sederhana tetapi sangat penting: agar saat jemaah datang pada 8 Zulhijah, mereka langsung mengetahui tempat masing-masing sehingga tidak terjadi kekacauan.
Malam harinya, Markaz 49 Arafah baru mendapatkan tambahan personel empat orang dari Makkah.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Pada 9 Zulhijah, jutaan manusia berada di Padang Arafah. Ribuan jemaah Indonesia yang berada di Markaz 49 mulai menjalani wukuf, puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Di tengah kekhusyukan mereka berdoa, kami tetap siaga. Ada yang mengatur distribusi layanan, membantu jemaah yang membutuhkan, mengarahkan lansia, hingga memastikan seluruh kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Menjelang matahari terbenam, tugas kami justru semakin berat. Begitu waktu wukuf selesai, ribuan jemaah harus segera bergeser. Sebagian menuju Muzdalifah untuk mabit sebelum melanjutkan ke Mina. Sebagian lainnya, terutama jemaah lanjut usia dan risiko tinggi, mengikuti skema murur, yaitu langsung menuju Mina tanpa bermalam di Muzdalifah. Proses itu berlangsung hingga larut malam.
Kami terus berdiri di tengah arus manusia yang bergerak tanpa henti. Rasa lapar, haus, dan lelah seolah tidak lagi terasa karena pikiran kami hanya tertuju pada satu hal: memastikan seluruh jemaah berangkat dengan aman.
Sekitar pukul dua belas malam, ketika bus terakhir telah meninggalkan Arafah, tugas kami ternyata belum selesai. Kami ternyata masih harus kembali menyisir 26 tenda di Markaz 49.
Satu demi satu kami masuki. Kami harus memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal. Tidak ada lansia yang tertidur. Tidak ada barang penting yang tercecer.
Barulah setelah benar-benar yakin seluruh tenda kosong, kami ikut rombongan bus terakhir menuju Mina. Di situlah tantangan pribadi saya dimulai.
Saat turun dari bus, saya masih mengenakan pakaian ihram. Di punggung saya terdapat tas perlengkapan dengan berat sekitar delapan hingga sepuluh kilogram. Di bagian depan masih ada tas kecil berisi kebutuhan pribadi. Sehingga total beban yang harus saya bawa lebih dari sepuluh kilogram.
Dari titik turun bus menuju kompleks Jamarat, saya harus berjalan kaki sekitar empat kilometer. Langkah demi langkah saya ayunkan di tengah lautan manusia dari berbagai negara. Sesekali saya berhenti mengambil napas. Bahu terasa pegal. Kaki mulai nyeri. Tenggorokan kering.
Tetapi entah mengapa, di dalam hati muncul keyakinan yang sulit dijelaskan. Saya percaya Allah akan memberikan kekuatan.
Dan benar saja. Sedikit demi sedikit langkah itu terasa ringan. Saya akhirnya tiba di Jamarat dan berhasil melaksanakan lontar Jumrah Aqabah pada malam 10 Zulhijah.
Saat melempar tujuh kerikil ke arah jumrah, saya tidak hanya melempar simbol godaan setan. Saya merasa sedang melempar rasa lelah, keraguan, dan seluruh ketakutan yang selama ini menghampiri perjalanan saya.
Alhamdulillah. Semuanya dapat saya lalui.
Setelah itu kami menuju hotel Daerah Kerja Bandara di kawasan Aziziyah. Dari pintu keluar Jamarat kami kembali berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer menuju hotel.
Saat itulah terbersit di kepala saya seakan diri ini seperti seorang prajurit perang, perang melawan ego pribadi namun penuh keyakinan.
Tubuh benar-benar meminta istirahat.
Namun waktu istirahat hanya sebentar.
Esok paginya kami kembali bertugas.
Selama hari-hari tasyrik, saya bersama rekan-rekan kembali ke jalur Jamarat untuk membantu mengarahkan jemaah Indonesia yang akan melaksanakan lontar jumrah. Kami memastikan arus jemaah tetap tertib, membantu lansia yang membutuhkan pendampingan, mengarahkan jemaah yang lupa jalan menuju hotel serta terus berkoordinasi dengan petugas lain agar seluruh proses berjalan aman.
Di sela-sela tugas pelayanan, saya juga menyelesaikan rangkaian ibadah haji. Pada 12 Zulhijah, saya melaksanakan tawaf ifadah, sa’i, serta lontar jumrah hari ketiga.
Sebagai petugas Daerah Kerja Bandara, kami mengambil nafar awal, karena keesokan harinya, 13 Zulhijah, kami harus segera meninggalkan Makkah untuk kembali menjalankan tugas layanan berikutnya.
Belum selesai menikmati suasana Makkah, kami langsung bergerak menuju Jeddah.
Tidak ada waktu berlama-lama. Tidak ada waktu menikmati euforia setelah berhaji. Masih ada puluhan ribu jemaah Indonesia yang harus kami layani untuk kembali ke Tanah Air dengan selamat.
Saat itulah saya benar-benar memahami makna pengabdian. Menjadi petugas haji berarti mendahulukan kepentingan jemaah di atas kepentingan pribadi.
Kami memang datang ke Tanah Suci untuk juga berhaji. Namun selama bertugas, ibadah terbesar justru kami rasakan ketika membantu orang lain agar dapat beribadah dengan lebih baik.
Dan di tengah semua pengabdian itu, Allah kembali menguji saya dengan sebuah cobaan yang jauh lebih berat daripada rasa lelah dan perjalanan Panjang; sebuah kabar dari Tanah Air membuat hati saya seketika runtuh.
—–
Bagian 4: _Doa di Masjid Nabawi dan Sebuah Takdir yang Mengubah Hidup
Perjalanan kami belum selesai.
Pada 14 Zulhijah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 31 Mei 2026, rombongan Petugas Daerah Kerja Bandara meninggalkan Makkah menuju Jeddah. Tidak ada waktu berlama-lama menikmati suasana setelah puncak ibadah haji. Keesokan harinya, 1 Juni 2026, fase pemulangan jemaah gelombang pertama melalui Bandara Internasional King Abdulaziz resmi dimulai.
Rutinitas kembali berulang.
Sejak pagi kami sudah berada di bandara. Sebagai petugas Media Center Haji, tugas saya adalah mendokumentasikan dan memberitakan proses kepulangan jemaah Indonesia. Namun seperti pada fase-fase sebelumnya, pekerjaan saya tidak berhenti pada kamera HP.
Setelah liputan selesai, saya kembali bergabung dengan teman-teman dari berbagai bidang tugas. Kami membantu menerima kedatangan jemaah dari Makkah, mengarahkan mereka menuju paviliun, mendampingi para lansia yang menggunakan kursi roda, meski cuaca Jeddah mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, hingga memastikan seluruh barang bawaan sesuai ketentuan maskapai penerbangan.
Banyak jemaah yang sudah tampak lelah setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Namun di wajah mereka terpancar kebahagiaan karena sebentar lagi akan kembali berkumpul dengan keluarga di Indonesia.
Melihat wajah-wajah itu, saya sering teringat keluarga sendiri. Terutama istri dan anak-anak yang selama berminggu-minggu hanya bisa saya sapa melalui panggilan video.
Ujian yang tidak pernah saya bayangkan
Suatu sore, ketika masih bertugas di Madinah pada fase kedatangan, saya baru saja selesai berbicara sekitar lima belas menit melalui telepon dengan istri dan anak saya. Kami saling bertukar kabar seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun.
Beberapa saat kemudian, saat saya sedang makan, telepon kembali berdering.
Istei video call, di ujung sana saya mendapat kabar, “Abi… saya kecelakaan”.
Saya terdiam.
Pikiran saya langsung kosong.
Sebagai seorang suami, naluri pertama tentu ingin pulang. Ingin berada di sampingnya. Ingin menggenggam tangannya ketika sedang kesakitan.
Namun saya berada lebih dari delapan ribu kilometer dari rumah. Saya tidak bisa melakukan apa pun. Saya hanya bisa berdoa.
Sore itu saya pun bergegas menuju Masjid Nabawi. Di kota yang menjadi tempat dimakamkannya Rasulullah SAW, saya menengadahkan tangan dan memohon kepada Allah SWT agar istri saya diberikan pertolongan, diangkat rasa sakitnya, disembuhkan luka-lukanya, dan dipulihkan kesehatannya seperti sediakala.
Tidak ada yang lebih menenangkan selain menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Hari demi hari saya terus mengikuti perkembangan kondisi istri melalui telepon. Alhamdulillah, penanganan medis berjalan dengan baik. Luka-lukanya berangsur pulih, dan perlahan kondisinya kembali membaik.
Peristiwa itu menjadi pelajaran besar bagi saya.
Saya menyadari bahwa setiap amanah selalu memiliki konsekuensi. Menjadi petugas haji berarti harus rela berjauhan dengan keluarga, menahan rindu, bahkan menghadapi ujian ketika orang-orang tercinta sedang membutuhkan kehadiran kita.
Namun saya juga belajar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berserah diri.
Fase Kepulangan Gelombang 2 Madinah
Setelah fase pemulangan di Jeddah selesai pada 15 Juni 2026, kami kembali bergeser ke Madinah. Mulai 16 Juni hingga akhir operasional haji, Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz menjadi pintu kepulangan jemaah gelombang kedua.
Aktivitas kembali berlangsung tanpa henti.
Kami menerima kedatangan jemaah dari hotel, membantu lansia turun dari bus, mendorong kursi roda menuju paviliun, memeriksa barang bawaan, mengarahkan mereka ke terminal keberangkatan, hingga memastikan seluruh proses berjalan tertib sebelum pesawat lepas landas menuju Indonesia.
Setiap hari saya melihat senyum para jemaah. Ada yang memeluk petugas sambil mengucapkan terima kasih. Ada yang berkaca-kaca karena akhirnya bisa menunaikan rukun Islam kelima. Ada pula yang hanya mengangkat kedua tangan sambil mendoakan kami.
Doa-doa sederhana itulah yang menjadi penyemangat di tengah rasa lelah yang tak lagi bisa dihitung.
Kini, ketika seluruh rangkaian tugas hampir selesai, saya sering merenung.
Mengapa Allah memilih saya? Saya bukan wartawan nasional. Saya bukan berasal dari kota besar. Saya hanyalah seorang jurnalis daerah yang setiap hari bertugas di Kabupaten Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura.
Tetapi Allah menunjukkan bahwa kesempatan tidak ditentukan oleh tempat seseorang berasal. Allah melihat niat, kesungguhan, dan usaha setiap hamba-Nya.
Karena itu, jika ada satu pesan yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman wartawan daerah, bahkan kepada siapa pun yang memiliki cita-cita menjadi petugas haji, jangan pernah merasa minder. Jangan pernah berpikir bahwa kesempatan itu hanya milik orang-orang tertentu.
Saya adalah bukti bahwa seorang wartawan daerah pun dapat dipercaya menjadi bagian dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji.
Jika Allah berkehendak, jalan itu akan dibuka. Persiapkan diri sebaik mungkin. Belajarlah. Jaga kesehatan. Perkuat kemampuan. Dan yang paling penting, luruskan niat untuk melayani tamu-tamu Allah, bukan untuk mengejar kebanggaan.
Pada akhirnya saya memahami satu hal. Menjadi petugas haji bukanlah tentang seragam yang dikenakan, kartu identitas yang digantung di dada, atau kesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci. Semua itu hanyalah fasilitas.
Hakikatnya, menjadi petugas haji adalah tentang keikhlasan melayani. Tentang bagaimana kita mendahulukan kepentingan jemaah daripada kepentingan pribadi. Tentang bagaimana kita tetap tersenyum ketika lelah, tetap berjalan ketika kaki terasa berat, dan tetap bertahan ketika hati sedang diuji.
Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua saya Hj. Nor Hayati dan H. Mundari yang tidak pernah berhenti mendoakan. Kepada istri Rela Al-Hikmahillah dan anak-anak Fatimah Az-Zahra dan Mohammad Abrizam Manaf yang dengan ikhlas merelakan saya bertugas jauh dari rumah. Kepada keluarga besar, para sahabat, rekan-rekan jurnalis di Kabupaten Sumenep, keluarga besar TV9 Nusantara, Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Jurnalis Bintang Sembilan (JB9) Kabupaten Sumenep, serta seluruh keluarga besar Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, khususnya Tusi Media Center Haji, yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan luar biasa ini.
Bagi saya, menjadi Petugas Haji PPIH Arab Saudi Tahun 2026 bukan sekadar pengalaman kerja. Ini adalah perjalanan hidup yang membentuk cara saya memandang pengabdian, kesabaran, dan pertolongan Allah SWT.
Jika suatu hari nanti ada yang bertanya, “apa pengalaman paling berharga dalam hidupmu?”
Saya akan menjawab dengan penuh keyakinan, “menjadi petugas haji!”
Karena dari perjalanan itulah saya benar-benar memahami makna firman Allah: “Min haitsu la yahtasib.” Allah memberi rezeki, kesempatan, dan kemuliaan dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.
Dan saya menjadi saksi bahwa janji Allah itu benar adanya.
—–
Penutup: Ternyata Allah Sedang Menyiapkan Jalan
Hingga hari ini, ketika saya menuliskan kembali seluruh perjalanan itu, terkadang saya masih sulit percaya bahwa semua benar-benar telah terjadi.
Saya masih ingat bagaimana saya memulai semuanya sebagai seorang wartawan daerah di Kabupaten Sumenep. Setiap hari berangkat pagi, pulang malam, mengejar narasumber, menulis berita, lalu kembali mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Kehidupan yang sederhana, tetapi saya syukuri sepenuh hati.
Tidak pernah sedikit pun saya membayangkan akan berdiri di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz Madinah menyambut ribuan jemaah haji Indonesia. Tidak pernah saya membayangkan akan berada di tengah jutaan manusia di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sambil memikul amanah sebagai petugas haji. Bahkan saya juga tidak pernah membayangkan dapat melaksanakan ibadah haji di tengah tugas melayani tamu-tamu Allah.
Semua terasa seperti mimpi.
Namun justru dari perjalanan itu saya belajar bahwa Allah sering kali bekerja dengan cara yang tidak mampu dipahami oleh manusia.
Ketika saya sedang sibuk bekerja sebagai wartawan daerah, ternyata Allah sedang menyiapkan jalan lain.
Ketika saya sedang diuji dengan anak yang sakit, ternyata Allah sedang menguji kesabaran saya.
Ketika telepon genggam saya rusak saat pelatihan, ternyata Allah sedang mengajarkan agar saya tidak mudah panik.
Ketika istri saya mengalami kecelakaan saat saya bertugas di Tanah Suci, Allah kembali mengingatkan bahwa tidak semua persoalan dapat kita selesaikan dengan tenaga dan kemampuan sendiri. Ada saatnya seorang hamba hanya mampu mengangkat kedua tangannya dan berkata, “ya Allah, aku titipkan semuanya kepada-Mu.”
Dan ternyata, doa memang memiliki kekuatan yang luar biasa.
Kini, saya memahami bahwa menjadi petugas haji bukan hanya tentang melayani jemaah. Lebih dari itu, Allah sedang mendidik saya menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, lebih kuat, dan lebih mampu berserah diri.
Saya juga belajar bahwa pekerjaan apa pun dapat menjadi jalan menuju keberkahan apabila diniatkan sebagai ibadah.
Saya hanyalah seorang wartawan. Tetapi profesi itulah yang mengantarkan saya bertemu dengan kesempatan yang luar biasa.
Karena itu, saya ingin berpesan kepada siapa pun yang membaca kisah ini. Jangan pernah meremehkan profesi yang sedang Anda jalani hari ini.
Jangan pernah merasa kecil karena bekerja di daerah. Jangan pernah minder karena berasal dari kota yang jauh dari pusat pemerintahan. Sebab Allah tidak melihat dari mana seseorang berasal. Allah melihat hati, kesungguhan, kejujuran, dan usaha hamba-Nya.
Saya adalah saksi kecil dari semua itu.
Seorang wartawan dari Kabupaten Sumenep, Madura, yang tidak pernah bermimpi menjadi petugas haji, tetapi justru dipanggil Allah untuk menjadi bagian dari pelayanan ibadah haji tahun 1447 Hijriah.
Kalau hari ini ada yang bertanya kepada saya, “apa yang paling berharga dari seluruh perjalanan ini?”
Jawabannya bukan karena saya berhasil berangkat ke Tanah Suci. Bukan pula karena saya berhasil menjadi petugas haji.
Yang paling berharga adalah keyakinan bahwa pertolongan Allah benar-benar nyata.
Setiap doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan tidak pernah sia-sia. Setiap ujian pasti membawa hikmah. Dan setiap langkah yang diniatkan untuk melayani tamu-tamu Allah akan selalu dijaga oleh-Nya.
Semoga apa yang saya alami menjadi pengingat bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi jika Allah telah berkehendak.
Semoga kisah sederhana ini dapat menjadi penyemangat bagi para wartawan daerah, bagi para petugas pelayanan, bagi anak-anak muda yang sedang berjuang, dan bagi siapa pun yang sedang menanti takdir terbaik dari Allah SWT.
Karena pada akhirnya saya percaya, hidup bukan tentang seberapa hebat kita merencanakan masa depan. Hidup adalah tentang seberapa siap kita menerima rencana terbaik yang telah Allah siapkan.
Dan ketika semua itu terjadi, kita hanya bisa tersenyum, bersyukur, lalu mengucapkan satu kalimat yang menjadi judul perjalanan hidup ini.
Min Haitsu La Yahtasib.
Dari arah yang tidak pernah kita sangka-sangka. (*)
*M.Hariri – Media Center Haji Daker Bandara, PPIH Arab Saudi 2026*






