Direktur BPRS Sumenep Dorong Penguatan Inklusi Keuangan Syariah Melalui Kearifan Lokal

oleh
oleh
BPRS Sumenep gelar kegiatan talk show literasi keuangan syariah di Pendopo Keraton Sumenep, Selasa, 14 April 2026.

DAMAIRA.CO.ID, SUMEMEP-Direktur BPRS Sumenep, Hairil Fajar, mendorong penguatan kepercayaan masyarakat melalui perluasan inklusi keuangan syariah. Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam kegiatan talk show literasi keuangan syariah di Pendopo Keraton Sumenep, Selasa, 14 April 2026.

“Tema yang kami ambil hari ini adalah mendorong kepercayaan masyarakat melalui inklusi keuangan BPR Syariah. Kita tahu BPRS ini saat ini di seluruh Indonesia jumlahnya kurang lebih 167, dan di Jawa Timur sekitar 26,” ujar Hairil Fajar mengawali pemaparannya.

Hairil menegaskan, BPRS hadir sebagai wadah untuk memperluas akses inklusi keuangan syariah agar menjangkau lebih banyak masyarakat. 

“Peran kita adalah bagaimana kepercayaan publik terus meningkat, semakin dekat dengan masyarakat, dan tentu dapat diandalkan dalam kondisi perekonomian yang mungkin belum begitu membaik,” jelasnya.

Menurutnya, penguatan ekonomi syariah bukan hal baru bagi masyarakat Madura. Justru para pendahulu telah lebih dulu mempraktikkan prinsip muamalah berkeadilan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pendahulu-pendahulu kita telah mengajarkan praktik muamalah. Contoh di dunia peternakan, kalau kita punya sapi lalu dipelihara orang lain atau ‘diluangkan’ kata orang Madura. Hasilnya dibagi. Begitu juga pertanian. Kalau kita punya tanah dan tidak mengelolanya, kita berikan kepada pengelola dengan bagi hasil paling tidak 30% untuk pemilik tanah,” terangnya.

Ia mencontohkan dua tradisi Madura yang sejalan dengan mudharabah, yaitu sistem _Paron_ untuk pertanian dan _Raksa_ untuk peternakan. Tradisi lain yang kini viral adalah _Madura 24 Jam_, yaitu pola investasi perdagangan dengan pembagian hasil 50:50.

“Itu pendahulu kita yang sudah mengajarkan. Ketika kita punya modal, kita investasikan kepada saudara kita di luar kota. Hasilnya dibagi 50%. Ini ekonomi berkeadilan,” katanya.

Hairil membandingkan sistem syariah dengan kapitalis dan sosialis. Ia menyebut kapitalisme menekankan kebebasan berusaha, sementara sosialisme menekankan kepemilikan negara. 

“Yang kita ajarkan adalah ekonomi syariah yang berkeadilan, distribusi. Itulah yang diajarkan pendahulu kita. Bagaimana ekonomi itu kita kembangkan melalui BPRS sebagai instrumen keuangan bank yang kita harapkan semakin tangguh, kuat, dan memberi manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.

Di akhir sambutan, Hairil menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan literasi tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran dan dukungan semua pihak,” pungkasnya.(mat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.