DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Kehancuran, kejelekan, dan kehinaan manusia pada hakikatnya tidak datang dari luar dirinya. Ia bukan semata-mata akibat tekanan keadaan, pengaruh lingkungan, ataupun kesalahan orang lain. Sumber utama dari segala keburukan itu justru berakar dari dalam diri manusia sendiri—yakni hawa nafsu yang tidak terkendali.
Sejak awal, manusia telah dibekali akal dan hati sebagai penuntun menuju kebaikan. Namun di sisi lain, manusia juga memiliki hawa nafsu yang, jika tidak dikendalikan, dapat menyeretnya pada jurang kehancuran. Nafsu inilah yang melahirkan berbagai sifat tercela seperti keserakahan, kesombongan, kedzaliman, ketamakan, hasut, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya.
Keserakahan, misalnya, membuat manusia tidak pernah merasa cukup. Apa yang dimiliki terasa kurang, dan yang bukan haknya ingin dikuasai. Dari sinilah muncul praktik penindasan, korupsi, hingga pengkhianatan.
Sementara itu, kesombongan menutup mata hati manusia dari kebenaran. Ia merasa paling benar, paling hebat, dan merendahkan orang lain—padahal justru di situlah letak kehinaannya.
Kedzaliman dan ketamakan menjadi bukti nyata bagaimana hawa nafsu mampu mengalahkan nurani. Manusia yang dikuasai nafsu tidak lagi mempertimbangkan benar atau salah, halal atau haram, adil atau tidak. Yang penting adalah kepuasan diri, meskipun harus mengorbankan orang lain. Begitu pula hasut dan kebencian, yang mampu merusak hubungan antar manusia dan menimbulkan konflik berkepanjangan.
Padahal, setiap manusia sejatinya memiliki pilihan. Ia bisa memilih jalan kebaikan atau jalan keburukan. Tidak ada paksaan mutlak yang membuat seseorang menjadi baik atau buruk.
Semua kembali kepada bagaimana ia mengelola dirinya sendiri—bagaimana ia menundukkan hawa nafsunya dan menguatkan akal serta hatinya.
Oleh karena itu, perubahan tidak bisa hanya menuntut dunia luar. Perubahan harus dimulai dari dalam diri.
Mengendalikan nafsu, memperbaiki niat, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan adalah langkah utama untuk menjaga martabat kemanusiaan. Sebab ketika manusia mampu menguasai dirinya, ia akan terhindar dari kehancuran dan kehinaan.
Sebaliknya, ketika manusia membiarkan hawa nafsunya berkuasa, maka sejatinya ia sedang menggali lubang kehancurannya sendiri.
Pada akhirnya, baik atau buruknya manusia bukan ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh pilihan dirinya sendiri.
Wallahua’lam Biṣṣawab
Pecinta Kopi Hitam





