DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Madura Ethnic Carnival (MEC) Sumenep 2026 mengusung tema “Keraton Sumenep” sebagai upaya memperkuat pelestarian dan promosi sejarah, seni, serta kebudayaan daerah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Pemilihan Keraton Sumenep sebagai tema MEC 2026 diharapkan mampu menghadirkan sejarah dan kekayaan budaya daerah dalam kemasan yang kreatif, atraktif, dan edukatif. Keraton Sumenep yang memiliki nilai historis dan filosofis menjadi sumber inspirasi bagi para peserta dalam menampilkan berbagai karya seni dan kreativitas.
Ketua Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS), M. Hariri, menyampaikan bahwa tema Keraton Sumenep tidak hanya dimaksudkan untuk menghadirkan kemeriahan dalam sebuah event budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali warisan sejarah dan budaya Sumenep kepada masyarakat.
“Keraton Sumenep memiliki nilai historis dan filosofis yang sangat kuat. Bangunan, ornamen, simbol, hingga perjalanan sejarah Keraton Sumenep menjadi sumber inspirasi dalam berbagai karya kreatif pada MEC 2026,” kata M. Hariri.
Menurutnya, kekayaan sejarah dan budaya Keraton Sumenep perlu terus dikenalkan kepada generasi muda melalui berbagai pendekatan kreatif. Salah satunya melalui penyelenggaraan MEC yang memadukan unsur sejarah, seni, budaya, dan kreativitas.
“Kami ingin mengemas warisan sejarah dan budaya tersebut menjadi sebuah pertunjukan yang menarik, kreatif, dan tetap memiliki nilai edukasi,” ujarnya.
M. Hariri menambahkan, MEC Sumenep 2026 diharapkan tidak hanya menjadi tontonan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi pelaku seni, desainer, komunitas, dan generasi muda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan identitas budaya Sumenep.
“Keraton Sumenep bukan hanya sebuah bangunan bersejarah, tetapi merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban dan kebudayaan Sumenep. Karena itu, nilai-nilai tersebut kami angkat melalui kreativitas peserta MEC,” terangnya.
Penyelenggaraan MEC Sumenep 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat promosi budaya dan pariwisata daerah. Kehadiran event budaya yang dikemas secara kreatif diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Sumenep sebagai destinasi wisata sekaligus mendorong masyarakat luar daerah untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kekayaan budaya Sumenep.
M. Hariri berharap MEC dapat menjadi panggung kebudayaan yang mampu menjaga keberlanjutan budaya daerah di tengah perkembangan zaman.
“Harapannya, MEC Sumenep 2026 mampu menjadi panggung kebudayaan yang membanggakan, untuk menghidupkan, mengembangkan, dan mengenalkan budaya tanpa kehilangan jati dirinya,” ungkapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut mendukung pelaksanaan MEC yang digelar setiap tahun agar memberikan kontribusi terhadap pengembangan seni, budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata daerah.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk turut menyukseskan pelaksanaan MEC agar memberikan dampak positif bagi pengembangan seni, budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata daerah,” ucap M. Hariri.
Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim menyampaikan bahwa keberadaan event kebudayaan seperti MEC memiliki manfaat yang lebih luas, tidak hanya dari sisi seni dan budaya, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurutnya, semakin banyak wisatawan yang datang untuk menyaksikan event budaya, maka semakin terbuka pula peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat ekonomi. Hal tersebut dapat dirasakan oleh pelaku UMKM, sektor kuliner, jasa, maupun berbagai usaha yang berkaitan dengan pariwisata.
“Karena itu, penyelenggaraan event tidak hanya dipandang dari sisi kemeriahan acara, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tandasnya.
Wakil Bupati berharap penyelenggaraan MEC dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari agenda kebudayaan daerah yang mampu memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Sumenep sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata.
Melalui tema “Keraton Sumenep”, MEC 2026 diharapkan menjadi jembatan antara warisan sejarah dengan kreativitas generasi masa kini, sehingga nilai-nilai budaya daerah tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi mendatang.








