DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Salah satu keunikan Madura adalah kemampuannya melahirkan tokoh-tokoh besar yang kiprahnya tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga memberi warna dalam perjalanan sejarah Nusantara. Tidak berlebihan jika Madura kemudian dikenal di berbagai penjuru Indonesia sebagai daerah yang memiliki tradisi keilmuan, kepemimpinan, dan ketokohan yang kuat.
Jejak tersebut dapat ditelusuri sejak masa kerajaan. Salah satu tokoh yang sangat dikenal adalah Arya Wiraraja, seorang tokoh penting dalam sejarah Nusantara yang memiliki keterkaitan erat dengan Madura. Dalam bidang keagamaan dan pendidikan Islam, Madura juga melahirkan ulama besar seperti Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, yang pengaruh keilmuannya meluas hingga berbagai daerah di Indonesia. Dari pesantren-pesantren Madura pula lahir banyak ulama dan tokoh masyarakat yang kemudian berkiprah di berbagai bidang.
Almarhum R. KH. Moh. Tohir Zain pernah menyampaikan sebuah pandangan menarik tentang tradisi intelektual masyarakat Madura. Menurut penuturannya, orang Madura telah memiliki tradisi pendidikan dan keilmuan yang maju sejak masa lampau. Bahkan, ia menyebut bahwa tokoh Madura, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, yang memerintah Sumenep pada 1811–1854, telah memiliki penguasaan terhadap sejumlah bahasa dan memperoleh gelar kehormatan dari Eropa.
Kisah tersebut, terlepas dari perlunya penelusuran lebih lanjut terhadap sumber sejarahnya, menunjukkan bahwa hubungan masyarakat Madura dengan dunia luar serta tradisi intelektual sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Madura sejak dahulu memiliki tokoh-tokoh yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, bahasa, kebudayaan, dan perkembangan dunia.
Karena itu, menjadi pertanyaan sekaligus bahan perenungan bersama: mengapa generasi Madura hari ini belum sepenuhnya mampu menunjukkan capaian yang sebanding dengan para pendahulunya?
Pertanyaan tersebut tentu bukan untuk merendahkan generasi sekarang. Justru sebaliknya, hal itu harus menjadi cambuk untuk melakukan introspeksi. Warisan kebesaran para pendahulu tidak cukup hanya dikenang melalui cerita sejarah, nama jalan, lembaga pendidikan, atau haul tahunan. Warisan tersebut harus diteruskan dalam bentuk prestasi, karya, ilmu pengetahuan, dan kontribusi nyata.
Generasi Madura perlu kembali menumbuhkan semangat belajar, memperkuat pendidikan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membuka diri terhadap perkembangan dunia. Penguasaan bahasa asing, riset, teknologi digital, ekonomi, sains, budaya, dan berbagai disiplin ilmu harus menjadi bagian dari perjalanan generasi muda Madura.
Para pendahulu tentu akan lebih bangga apabila generasi setelahnya tidak hanya menjadi pewaris nama besar, tetapi juga mampu menciptakan nama besar baru. Mereka akan bangga apabila anak-anak Madura hadir sebagai ilmuwan, akademisi, pengusaha, profesional, pemimpin, budayawan, teknolog, dan tokoh masyarakat yang diperhitungkan hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Madura memiliki sejarah panjang. Namun, sejarah tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan masa lalu. Sejarah harus menjadi energi untuk membangun masa depan.
Karena itu, tidak ada alasan bagi generasi Madura untuk merasa rendah diri. Dengan pendidikan yang kuat, karakter yang kokoh, semangat keilmuan, dan kerja keras, generasi Madura memiliki kesempatan yang sama untuk berkiprah dan memberi manfaat bagi Indonesia bahkan dunia.
Maka, jika dahulu para pendahulu Madura mampu menjalin hubungan dengan berbagai pusat peradaban dan melahirkan tokoh-tokoh besar, tugas generasi hari ini adalah melanjutkan tradisi tersebut dengan cara yang sesuai dengan zamannya.
Madura tidak cukup hanya dikenang karena kebesaran masa lalunya. Madura harus kembali dikenal karena kualitas generasinya hari ini dan kontribusinya bagi masa depan.
Wallahu a’lam bisshawab.
By: Pecinta Kopi Hitam






