DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Di tengah pesatnya pembangunan dan kemajuan teknologi, masih ada warga di wilayah terpencil Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang belum menikmati akses infrastruktur memadai.
Kondisi tersebut dirasakan warga Desa Cangkramaan dan Desa Tambangayan, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean. Warga di dua desa tersebut harus melewati sebuah bukit dengan medan berbatu dan terjal untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Jalan tersebut menjadi akses penting bagi warga untuk menjalankan kegiatan ekonomi, pertanian, maupun pendidikan. Namun, kondisi medan yang sulit membuat kendaraan roda dua tidak dapat melintas dengan mudah.
Warga terpaksa memarkir sepeda motornya di tempat parkir yang berada di lereng bukit. Untuk melanjutkan perjalanan, mereka harus berjalan kaki melewati bukit sebelum kembali menggunakan kendaraan di sisi lainnya.
Bagi warga yang memiliki kemampuan ekonomi, kondisi tersebut memaksa mereka memiliki sedikitnya dua sepeda motor. Satu kendaraan ditinggalkan di bawah bukit dan kendaraan lainnya diparkir di sisi atas bukit.
Sementara bagi warga yang tidak mampu memiliki dua kendaraan, mereka terpaksa menyewa jasa warga yang menyediakan sepeda motor untuk membantu mobilitas setiap kali melakukan aktivitas ekonomi maupun keperluan lainnya.
Sultan, salah seorang warga setempat, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan hingga kini belum mengalami perubahan berarti.
“Ini sudah berlangsung dari dulu sampai sekarang. Tidak ada pilihan lain karena kondisi medannya memang seperti ini,” tuturnya.
Menurutnya, persoalan akses jalan semakin dirasakan karena sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Lahan pertanian warga berada di sebelah utara bukit sehingga mereka harus melewati jalur tersebut untuk menuju lahan.
“Rata-rata warga di sini petani. Lahan pertanian berada di sebelah utara bukit. Jadi mau tidak mau kami harus melewati bukit,” ujarnya.
Kepala Desa Cangkramaan, Abd Salam, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan Desa Cangkramaan dan Desa Tambangayan hanya memiliki satu akses jalan desa yang menjadi jalur utama warga untuk melakukan berbagai aktivitas.
“Desa Cangkramaan dan Tambangayan hanya memiliki satu akses jalan desa. Jalannya harus melewati bukit untuk melakukan aktivitas perekonomian, termasuk menuju Kecamatan Kangayan dan Kecamatan Arjasa,” kata Abd Salam.
Ia menjelaskan, warga yang hendak menuju Kecamatan Kangayan harus menempuh perjalanan sekitar dua jam. Sementara perjalanan menuju Kecamatan Arjasa membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Menurutnya, kondisi akses jalan tersebut telah berlangsung cukup lama. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret dari pemerintah daerah, khususnya terkait pembangunan infrastruktur jalan yang dapat mempermudah mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan.
“Sudah lama kondisi seperti ini, tetapi sampai sekarang belum ada solusi konkret, terutama pembangunan infrastruktur yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” pungkasnya.
Warga berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap kondisi infrastruktur di wilayah terpencil Kepulauan Sumenep. Perbaikan akses jalan dinilai penting untuk membuka mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi, pertanian, pendidikan, dan pelayanan sosial lainnya.
