DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-3 Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), Pengurus Daerah (PD) IPARI Kabupaten Sumenep menorehkan sejarah baru dalam pergerakan pelestarian lingkungan.
Melalui agenda bertajuk “Gerak Batin Ekoteologi IPARI Sumenep untuk Bumi Indonesia”, para penyuluh agama mengawinkan ikhtiar spiritual dan aksi nyata ekologis secara apik di Serambi Asta Syaikh Arif Ahmad (Buju’ Pongkeng), Kecamatan Bluto, pada Jumat (22/5/2026).
Kegiatan yang sarat makna dalam momentum harlah ini diawali dengan aksi membumi, yakni gotong royong membersihkan lingkungan sekitar kawasan Asta dari sampah. Setelah area kembali asri, acara resmi dimulai dengan kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menggema penuh khidmat.
Ketua Pengurus Daerah (PD) IPARI Sumenep, Gus H. Moh. Halili, S.Ag., M.H., dalam laporan kegiatannya menyampaikan bahwa pergerakan hari lahir ini ditandai dengan aksi penanaman 1.000 bibit alpukat unggulan.
“Penanaman ratusan batang alpukat kita lakukan secara simbolis di sekitar area Asta Buju’ Pongkeng, sementara selebihnya akan disebar ke seluruh kecamatan se-Kabupaten Sumenep. Ada empat varian bibit alpukat yang kita tanam hari ini, yaitu Miki, Alligator, Red Vietnam, dan Markus,” jelas Gus Halili.
Acara peringatan harlah ini kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Kyai Abdul Wasid, M. Pd.I, Beliau merespons dengan sangat antusias dan memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah nyata dan inovatif dari para penyuluh agama ini.
Puncak pemikiran ekologis dalam acara ini disampaikan melalui Tausyiah Ekoteologi oleh Inisiator Gerakan Taubat Ekologi sekaligus Ketua Panitia, Gus Abdul Adim Yasin. Di hadapan para hadirin, ia menekankan urgensi “Pertaubatan Ekologi” secara massal yang harus dilakukan oleh semua pihak.
Bahkan, Gus Adim melontarkan gagasan revolusioner di lingkungan birokrasi. Ia menggagas gerakan donasi sukarela sebesar Rp 10.000 bagi para ASN di lingkungan Kemenag Sumenep setiap kali gajian. “Dana ini khusus untuk dibelikan bibit pohon buah. Semoga segera terwujud. Sebab, kegiatan menanam buah ini diharapkan tidak hanya berdampak ekologis bagi alam, tetapi juga berdampak ekonomis untuk mewujudkan ketahanan keluarga yang sakinah dan maslahat,” tegas Gus Adim.
Tausyiah Ekoteologi tersebut disimak dengan penuh antusias oleh seluruh Penyuluh Agama se-Kabupaten Sumenep, tokoh organisasi NU, serta para wartawan yang memadati Serambi Asta. Kehadiran elemen aktivis peduli lingkungan juga semakin memperkuat barisan pergerakan harlah ini, di antaranya Bapak Saddam Susilo Kariya, yang sekaligus merupakan petugas dari Kementerian Pertanian yang bertugas di Kabupaten Sumenep.
Menyempurnakan ikhtiar lahiriah tersebut, acara dilanjutkan dengan “Gerak Batin” berupa Istighosah Ekoteologi untuk Bumi Indonesia yang dipimpin secara khusyuk oleh Kiai Qumri Rohman, lalu ditutup dengan pembacaan doa. Nuansa spiritual ini kemudian dikonkretkan dengan aksi turun ke tanah, yakni penanaman “Pohon Cinta” secara simbolis.
Usai acara terpusat, semangat penghijauan harlah ini langsung diekspansi. Masing-masing Penyuluh Agama membawa pulang bibit alpukat tersebut ke wilayah tugasnya untuk ditanam secara serentak di seluruh kecamatan se-Kabupaten Sumenep.
Melihat tingginya animo dan sinergi ini, Ketua Umum PD IPARI Sumenep, Gus Halili, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas kekompakan luar biasa dari para Penyuluh Agama Islam se-Kabupaten Sumenep dalam menyukseskan agenda harlah ini.
Kolaborasi lintas sektoral yang terjalin indah dalam kegiatan ini diharapkan dapat lebih meluas di masa depan. Langkah kecil yang bermula dari Buju’ Pongkeng ini menjadi doa sekaligus harapan. Semoga “Gerak Batin Ekoteologi” ini menjadi pemantik gelombang pergerakan yang jauh lebih besar dan masif demi merawat Indonesia yang hijau, lestari, dan bermartabat.
#ipari #iparimerawatindonesia #ekoteologiipari #penyuluhagamabergerak #kemenag #GerakBatinEkoteologi #IPARISumenep #KemenagSumenep #Harlah3IPARI






