Tiga Serangkai di Balik Sekretariat PMII Sumenep

oleh
oleh

Oleh: Abdul Hadi

Suatu sore saya melewati sebuah bangunan yang tidak terlalu besar. Namun suasananya terasa hidup. Sahabat-sahabat datang dan pergi. Ada yang berdiskusi, ada yang bersantai, sebagian membuka laptop, sementara yang lain hanya duduk bercanda.

Itulah sekretariat Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kabupaten Sumenep.

Bangunan itu tidak hadir begitu saja. Ada cerita di balik berdirinya. Cerita tentang tiga orang yang oleh sebagian sahabat sering disebut sebagai “tiga serangkai”.

Yang pertama adalah Hairullah, Ketua Umum IKA PMII Sumenep. Ia berasal dari Pulau Kangayan. Karakter orang pulau biasanya dikenal tahan banting—terbiasa menghadapi angin laut, ombak, dan jarak yang panjang. Barangkali itu pula yang membentuk pribadi Hairullah.

Ia dikenal humble dan sederhana. Tidak banyak gaya. Jika berbicara seperlunya saja, tetapi ketika bekerja totalitasnya terasa.

Di balik sosoknya, ada pula cerita tentang istrinya, Dewi Hartatik, yang berasal dari Pamolokan. Menurut cerita teman-teman, ia pernah mengikuti ajang Cebbing Sumenep. Banyak yang memuji kecantikannya, bahkan menyebutnya sebagai “bidadari Pamolokan”.

Meski langkahnya terhenti di babak penyisihan, sebagian sahabat justru melihatnya sebagai takdir baik. Andai menang, mungkin jalan hidupnya berbeda. Bisa saja menjadi figur publik atau bekerja di lingkungan protokoler. Namun takdir mempertemukannya dengan Hairullah.

Teman-temannya menggambarkan Dewi sebagai sosok yang setia, meski terkadang sedikit cerewet. Tapi justru di situlah keseimbangan rumah tangga sering terjaga.

Sosok kedua adalah Dr. Mulyadi Wasik, M.Pd. Setiap kali bertemu dengannya, suasana percakapan terasa lebih tenang. Cara bicaranya pelan, tidak pernah meledak-ledak, namun kalimatnya sering tepat sasaran.

Ia bisa disebut sebagai intelektual organik—aktivis yang tidak kehilangan akarnya di masyarakat, sekaligus akademisi yang tetap berpihak pada gerakan.

Pengalaman organisasinya panjang. Ia tidak hanya mengenal dinamika kampus, tetapi juga dinamika pergerakan di lapangan.

Yang menarik, banyak sahabat mengatakan bahwa mereka hampir tidak pernah mendengar Mulyadi Wasik mengeluh. Padahal dunia aktivisme sering kali penuh tantangan dan keluhan. Namun ia dikenal konsisten menjalani peran dan tanggung jawabnya.

Sosok ketiga adalah Fauzan Adhima, S.Pd. Di antara ketiganya, ia sering dianggap yang paling unik.

Ia seorang pengusaha, sekaligus aktivis yang terbiasa bekerja di balik layar. Dalam rapat, ia tidak banyak berbicara. Kadang hanya satu atau dua kalimat. Namun setelah rapat selesai, pekerjaan justru mulai bergerak.

Orang seperti ini tidak banyak. Banyak orang pandai berbicara, tetapi tidak semuanya mampu mengeksekusi gagasan. Fauzan termasuk yang kedua: taktis dan strategis.

Ada satu sisi manusiawi yang sering menjadi bahan candaan sahabat-sahabatnya—yakni kedekatannya dengan keluarga, terutama sang istri. Sebuah humor yang sering muncul di kalangan aktivis: bahwa di balik banyak tokoh hebat, selalu ada “atasan” di rumah.

Ketiga sosok ini sering disebut sebagai tiga serangkai. Mereka bukan tokoh nasional. Bukan pula pejabat besar. Namun mereka melakukan sesuatu yang penting: membangun rumah bagi gerakan.

Sekretariat.

Tempat berkumpul. Tempat bertukar pikiran. Tempat merencanakan masa depan.

Di sana, diskusi berlangsung. Ide-ide lahir. Persahabatan tumbuh.

Namun tantangan organisasi hari ini berbeda dengan masa lalu. Organisasi mahasiswa tidak lagi hidup hanya di ruang rapat. Ia juga hidup di ruang digital.

Di era sekarang, membangun organisasi tidak cukup hanya dengan semangat. Diperlukan transformasi digital. Pemimpin organisasi harus menjadi digital leader—visioner dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Pengambilan keputusan tidak lagi cukup mengandalkan intuisi semata, tetapi perlu didukung oleh data.

Budaya organisasi pun ikut berubah. Generasi muda kini hidup dalam ekosistem digital: cloud, kecerdasan buatan (AI), dan analitik data. Jika organisasi tidak mengikuti perkembangan ini, ia berisiko tertinggal.

Karena itu, organisasi perlu mulai mendorong beberapa hal penting, antara lain meningkatkan literasi digital kader, membangun budaya inovasi, memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan, serta menggunakan platform digital untuk memperkuat kolaborasi.

Intinya bukan sekadar teknologi, tetapi perubahan cara berpikir.

Organisasi harus lincah, adaptif, dan terbuka terhadap perubahan.

Saya membayangkan suatu hari sekretariat PMII itu tidak hanya dipenuhi diskusi, tetapi juga layar-layar laptop yang terbuka. Data organisasi tersimpan rapi di cloud. Program kaderisasi berjalan dengan dukungan teknologi digital. Jaringan alumni saling terhubung dalam satu sistem.

Gerakan mahasiswa yang tidak hanya kuat di jalanan, tetapi juga kuat di dunia digital.

Dan mungkin, ketika semua itu terjadi, orang akan mengingat satu cerita kecil: bahwa sekretariat itu dulu dibangun oleh tiga orang.

Seorang anak pulau yang humble.

Seorang intelektual yang tenang.

Seorang pengusaha yang sedikit bicara.

Tiga serangkai yang bekerja tanpa banyak cerita, tetapi meninggalkan jejak.