DAMAIRA.CO.ID, SUMEMEP-Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Sejak lahir, ia hidup dalam keterikatan dengan orang lain—keluarga, masyarakat, hingga lingkungan yang lebih luas.
Naluri sosial bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan fondasi yang membentuk jati diri manusia itu sendiri. Ketika naluri ini hilang atau diabaikan, manusia sejatinya sedang keluar dari kodrat kemanusiaannya.
Naluri sosial tercermin dalam empati, kepedulian, sikap saling menghormati, dan kesediaan untuk hidup berdampingan. Nilai-nilai ini yang membedakan manusia dari makhluk lain.
Tanpa nilai sosial, manusia tidak lagi memandang sesamanya sebagai subjek yang harus dihargai, melainkan sebagai objek yang bisa diabaikan, dimanfaatkan, bahkan disakiti demi kepentingan pribadi.
Manusia yang tidak memiliki nilai sosial cenderung hidup dalam egoisme ekstrem. Ia menutup mata terhadap penderitaan orang lain, tidak memiliki rasa tanggung jawab kolektif, dan memutus ikatan moral dengan lingkungannya.
Dalam kondisi seperti ini, kecerdasan dan kekuasaan justru bisa berubah menjadi alat penindasan. Ironisnya, ketika naluri sosial mati, akal budi yang seharusnya memuliakan manusia malah menjadi sarana pembenaran atas tindakan tidak berperikemanusiaan.
Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa manusia tanpa nilai sosial lebih buruk dari binatang. Binatang hidup berdasarkan naluri alamiah dan keseimbangan ekosistem; mereka tidak merusak tatanan hidup demi keserakahan yang tak berbatas.
Sementara manusia yang kehilangan nilai sosial, dengan kesadaran dan kehendaknya, mampu melakukan kerusakan moral dan sosial yang jauh lebih besar.
Kehilangan naluri sosial juga berarti hilangnya solidaritas. Masyarakat menjadi rapuh, dipenuhi kecurigaan, konflik, dan ketidakadilan. Ketika kepentingan pribadi dijadikan pusat segalanya, ruang-ruang kemanusiaan menyempit. Pada titik ini, kemajuan teknologi dan ekonomi tidak lagi membawa peradaban, melainkan mempercepat degradasi nilai.
Karena itu, menjaga naluri sosial bukan hanya soal etika, tetapi soal mempertahankan kemanusiaan itu sendiri. Empati, kepedulian, dan tanggung jawab sosial harus terus dipupuk agar manusia tidak tercerabut dari jati dirinya. Tanpa nilai sosial, manusia kehilangan makna hidup bersama—dan pada saat itulah ia bukan lagi makhluk berperadaban, melainkan makhluk yang tersesat dalam egonya sendiri.






