(Oleh : Moh. Rasul Junaidy)
Ada orang yang dikenal karena jabatannya.
Ada yang dikenang karena pidatonya.
Ada pula yang tetap hidup dalam ingatan banyak orang karena ketulusan dan keberpihakannya.
KH Said Abdullah berada dalam golongan yang terakhir.
Kabar duka itu datang juga. Beliau wafat pada Rabu, 10 Juni 2026. Bukan sekadar kehilangan seorang pengasuh pesantren Mathali’ul Anwar, Desa Pangarangan. Madura, khususnya Sumenep kehilangan salah satu penjaga akal sehat sosialnya. Seorang ulama yang sepanjang hidup memilih berdiri di tengah masyarakat, bukan di atas mereka.
Saya mengenal beliau pada tahun 1997, saat menjadi wartawan Karya Dharma (Jawa Pos Group). Dan perkenalan terus menjadi persahabatan ketika pada tahun 1999 koran Radar Madura lahir dan saya aktif di dalamnya.
Masa itu adalah masa transisi. Orde Baru telah tumbang, tetapi warisan ketakutan dan budaya diam yang ditinggalkannya belum benar-benar hilang. Reformasi sedang mencari bentuknya. Demokrasi masih belajar berjalan. Di berbagai daerah, termasuk di Sumenep, perubahan membutuhkan keberanian orang-orang yang bersedia mengambil risiko.
Kiai Said adalah salah satu di antara mereka. Beliau tidak dikenal sebagai orator yang menggelegar. Tidak pula sebagai tokoh yang gemar mencari sorotan. Tetapi dalam setiap momentum penting perubahan sosial dan politik di Sumenep, namanya selalu hadir.
Ia adalah bagian dari generasi yang memahami bahwa agama tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh dari persoalan publik. Justru karena agama, seseorang harus hadir ketika ketidakadilan terjadi.
Dalam situasi ketika banyak orang memilih aman dengan diam, beliau memilih jalan yang berbeda. Ia berbicara ketika diperlukan. Ia mengingatkan ketika banyak orang memilih menyesuaikan diri dengan keadaan. Ia berdiri di pihak yang menurut keyakinannya benar, sekalipun posisi itu tidak selalu menguntungkan.
Mungkin karena itu penghormatan kepada beliau melampaui batas-batas komunitas keagamaan. Beliau dihormati oleh umat Islam. Tetapi juga dihargai oleh tokoh-tokoh agama lain. Bukan karena beliau mengurangi keyakinannya. Justru karena beliau menjalankan keyakinannya secara utuh. Teguh dalam prinsip, tetapi lapang dalam pergaulan. Kuat dalam akidah, tetapi lembut dalam kemanusiaan.
Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh identitas, beliau menunjukkan bahwa keberagamaan yang matang tidak melahirkan kebencian. Ia melahirkan penghormatan kepada sesama manusia.
Saya berkesempatan mengenal beliau lebih dekat ketika bersama beberapa teman mendirikan Yayasan Nurani. Saat itu kami dipertemukan oleh kegelisahan yang sama, nasib guru-guru madrasah.
Mereka adalah kelompok yang bekerja dalam senyap. Mengajar generasi demi generasi. Menanamkan nilai dan pengetahuan. Tetapi sering kali hidup dalam keterbatasan ekonomi yang tidak sebanding dengan pengabdian mereka.
Yayasan Nurani lahir dari kesadaran bahwa keberpihakan kepada kaum lemah tidak boleh berhenti pada pidato dan keluhan.
Di sana ada enam orang yang dipersatukan oleh semangat yang sama. KH Said Abdullah, Freddi Kustanto yang akrab dipanggil Om Cha, Raud Faid Jakfar seorang politisi PKPI terakhir anggota DPRD Sumenep dari PPP, Misbahul Munir, seorang aktivis NU dan senior PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Moh. Yakum, seorang aktivis NU, dan saya sendiri dari jurnalis.
Hari ini, ketika mengenang masa itu, saya menyadari betapa waktu telah bekerja dengan caranya sendiri. Raud telah lebih dahulu berpulang. Misbahul dan Yakum juga berpulang. Kini Kiai Said Abdullah menyusulnya. Seolah satu per satu halaman dari sebuah bab penting dalam perjalanan hidup kami sedang ditutup oleh sejarah.
Namun ada satu hal yang tidak ikut pergi bersama mereka,Jejak pengabdian. Itulah yang membuat kehidupan seseorang tetap memiliki makna setelah kematiannya.
Kiai Said memahami betul bahwa tugas seorang ulama tidak berhenti pada pengajaran kitab. Ia harus hadir di tengah masyarakat. Menjadi pendengar bagi mereka yang tidak didengar. Menjadi pembela bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan.
Karena itu rumah dan pesantren beliau tidak pernah hanya menjadi tempat belajar agama. Tempat itu juga menjadi ruang pengaduan. Orang datang dengan berbagai persoalan. Persoalan ekonomi. Persoalan sosial. Persoalan keluarga. Persoalan konflik agraria. Dan beliau mendengarkan.
Dalam kehidupan publik kita hari ini, kemampuan mendengar mungkin menjadi salah satu kualitas yang paling langka. Banyak orang ingin berbicara. Sedikit yang bersedia mendengar. Kiai Said memiliki kesediaan itu.
Saya masih mengingat bagaimana beliau berdiri bersama masyarakat dalam berbagai persoalan lahan pegaraman yang melibatkan warga dan PT Garam. Pada saat banyak orang memilih menjaga jarak dari konflik yang rumit, beliau memilih mendampingi masyarakat yang merasa hak-haknya terancam.
Beliau tidak membawa kekuasaan. Beliau tidak membawa jabatan. Beliau membawa sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu kepercayaan. Dan kepercayaan adalah modal sosial yang tidak bisa dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari konsistensi dan ketulusan. Serta dari keberanian untuk tetap berada di pihak rakyat ketika situasi menjadi sulit.
Saya juga sering bertemu beliau dalam berbagai forum Bassra (Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura). Di forum itu, para ulama berdiskusi tentang masa depan Madura, tentang pembangunan, tentang dampak Suramadu, tentang industrialisasi yang mulai mengetuk pulau ini.
Kiai Said tidak pernah menjadi orang yang paling banyak bicara. Tetapi beliau selalu menjadi salah satu yang paling didengar. Karena substansi tidak pernah membutuhkan volume suara yang tinggi. Ia membutuhkan kejernihan pikiran dan kejujuran sikap.
Suatu ketika saya meminta nasihat kepada beliau sebagai wartawan. Jawabannya sederhana. “Gunakan penamu sebaik-baiknya. Jadikan itu ladang pahalamu.” Kalimat itu tampak biasa. Tetapi sesungguhnya mengandung pesan moral yang sangat dalam. Bahwa setiap profesi memiliki tanggung jawab etik.
Bahwa pena bukan sekadar alat menulis. Ia adalah instrumen yang dapat memperkuat kebenaran atau sebaliknya memperluas kebohongan.
Nasihat itu tetap saya ingat sampai hari ini. Mungkin karena ia lahir dari seseorang yang sepanjang hidupnya berusaha menjaga keselarasan antara kata dan tindakan.
Pada akhirnya, hidup seseorang tidak diukur dari seberapa banyak jabatan yang pernah disandangnya. Tidak pula dari seberapa sering namanya diberitakan. Hidup seseorang diukur dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi orang lain.
Dalam ukuran itu, Kiai Said telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ia meninggalkan pesantren. Ia meninggalkan santri. Ia meninggalkan karya sosial. Ia meninggalkan keteladanan. Dan yang lebih penting, ia meninggalkan contoh tentang bagaimana seorang ulama dapat tetap setia kepada rakyat tanpa kehilangan kemuliaan ilmu dan kehormatan dirinya.
Selamat jalan, Kiai Said Abdullah.
Semoga Allah menerima seluruh amal kebajikan panjenengan. Dan semoga generasi yang datang sesudah kita masih menemukan jejak-jejak keberanian, ketulusan, dan keberpihakan yang telah panjenengan wariskan.
Al-Fatihah.






