Cegah Abrasi Pesisir Sumenep, IPB University Tanam 200 Mangrove dan Bibitkan 500 Propagul 

oleh
oleh
Penanaman 200 bibit mangrove dan pembibitan 500 propagul di Desa Aenganyar diharapkan menjadi langkah awal bagi gerakan rehabilitasi pesisir yang berkelanjutan.

DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-IPB University memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem pesisir berbasis masyarakat melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan teknis penanaman serta pembibitan mangrove di Desa Aenganyar, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Jumat (23/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 200 bibit mangrove jenis Rhizophora stylosa ditanam, sementara 500 propagul mulai dibibitkan untuk mendukung ketersediaan bahan tanam dalam program rehabilitasi mangrove selanjutnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University Tahun 2026. Program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan rehabilitasi mangrove secara tepat, sekaligus mendorong keterlibatan aktif warga dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir.

Mangrove memiliki peran penting dalam melindungi kawasan pantai dari abrasi, menyediakan habitat bagi berbagai biota, mendukung produktivitas perikanan, serta menyerap dan menyimpan karbon. Karena itu, keberadaan mangrove menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya pesisir.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Sulistiono dan Dr. Fery Kurniawan dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, serta Dr. Robba Fahrisy Darus dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University.

Pelaksanaan program turut melibatkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Reng Paseser dan Kelompok Peduli Mangrove Madura. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok masyarakat tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat kapasitas warga dalam mengelola ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Kasi Pemerintahan Desa Aenganyar, Selvia, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, penanaman mangrove sangat dibutuhkan masyarakat, terutama karena sejumlah kawasan pantai di wilayahnya mulai mengalami abrasi.

“Program ini sangat kami harapkan karena beberapa pantai sudah mengalami abrasi. Penanaman mangrove diharapkan dapat menjadi solusi agar pantai kami tidak hilang,” ujarnya dalam sambutan.

Sementara itu, Prof. Sulistiono menjelaskan bahwa mangrove tidak hanya berfungsi menjaga kawasan pesisir, tetapi juga memberikan manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat.

“Jika mangrovenya hidup, salah satu biota yang akan hidup adalah kepiting. Kepiting bakau ini memiliki harga tinggi pada acara-acara tertentu,” ungkapnya di sela-sela diskusi.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Fery Kurniawan menyampaikan bahwa masyarakat perlu memahami teknik rehabilitasi mangrove, mulai dari pengenalan bahan tanam, proses pembibitan, pemilihan lokasi, hingga teknik penanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Kesesuaian jenis mangrove dengan kondisi lokasi, teknik penanaman, serta pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan tanaman juga menjadi faktor penentu keberhasilan.

Melalui program Dospulkam 2026, IPB University berupaya menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat pesisir. Masyarakat ditempatkan sebagai mitra utama dalam rehabilitasi ekosistem, dengan dukungan pendampingan teknis dan kolaborasi berbagai pihak.

Penanaman 200 bibit mangrove dan pembibitan 500 propagul di Desa Aenganyar diharapkan menjadi langkah awal bagi gerakan rehabilitasi pesisir yang berkelanjutan. Keberhasilan program tersebut selanjutnya bergantung pada konsistensi pemeliharaan, tingkat kelangsungan hidup tanaman, serta komitmen bersama dalam menjaga ekosistem mangrove di Kabupaten Sumenep.