DAMAIRA.CO.ID, SUMENEP-Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh kemuliaan, keberkahan, dan ampunan dari Allah SWT. Kehadirannya selalu disambut dengan suka cita oleh umat Muslim di seluruh penjuru negeri, termasuk di desa-desa dan kampung-kampung yang terasa lebih hidup dari biasanya. Di setiap sudut perkampungan, di masjid dan musala menjadi pusat kegiatan ibadah. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar merdu melalui pengeras suara, menciptakan suasana religius yang menenangkan hati dan menguatkan iman.
Pada bulan yang mulia ini, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah. Salah satu amalan yang paling tampak adalah membaca Al-Qur’an secara bersama-sama atau yang biasa disebut tadarus Al-Qur’an. Tradisi ini dilakukan selepas salat tarawih hingga menjelang malam, bahkan ada yang melanjutkannya selepas sahur. Dengan penuh kekhusyukan, mereka mentadabburi ayat demi ayat, berharap mendapatkan pahala yang berlipat ganda di bulan yang disebut sebagai syahrul maghfirah—bulan penuh ampunan.
Ramadan, Bulan Dilipatgandakannya Amal
Keutamaan Ramadan tidak hanya terletak pada kewajiban berpuasa, tetapi juga pada besarnya ganjaran amal kebaikan yang dilipatgandakan. Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an bernilai pahala, setiap sedekah menjadi berlipat, dan setiap doa memiliki peluang besar untuk dikabulkan.
Karena itu, umat Muslim dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Namun, di balik besarnya pahala, terdapat pula peringatan agar setiap Muslim lebih berhati-hati dalam bersikap. Para ulama mengingatkan bahwa sebagaimana kebaikan dilipatgandakan, perbuatan buruk di bulan Ramadan juga memiliki konsekuensi yang lebih berat. Oleh sebab itu, menjaga lisan, perilaku, dan hati menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah puasa.
Momentum Memperbaiki Diri
Ramadan sejatinya adalah momentum untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan yang telah lalu. Bulan ini menjadi kesempatan emas untuk kembali mendekat kepada Allah SWT, memperbanyak istigfar, dan menata ulang kehidupan agar lebih baik. Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan kembali bertemu Ramadan berikutnya, sehingga setiap detiknya patut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dengan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi segala larangan-Nya, seorang hamba berharap keluar dari Ramadan dalam keadaan suci, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Semoga setiap ibadah yang dilakukan menjadi jalan turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT.
InsyaAllah, jika Ramadan dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, maka dosa-dosa akan diampuni dan hati menjadi lebih tenang dalam menjalani kehidupan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Pecinta Kopi Hitam







