DAMAIRA.CO.ID, SUMEMEP-Beberapa pekan terakhir, rakyat media sosial (netizen) dihebohkan dengan pengakuan ahli fisikawan Havard, Michael Guillen. Ia mengklaim telah menemukan lokasi Tuhan, lokasi itu berjarak 439 Miliar Triliun Kilo Meter dari bumi. Secara teoritis, sebuah galaksi yang berada 273 miliar triliun mil dari bumi akan bergerak dengan kecepatan 186.000 mil per detik atau kecepatan cahaya. jarak itu, berada di ruang angkasa jauh di atas sana, yang disebut Cakrawala Kosmik.
Jika Tuhan yang dimaksud adalah Allah SWT. Klaim Fisikawan itu tentu mendapat sanggahan keras karena tidak sesuai dengan disiplin ilmu tauhid kalangan Ahlus Sunnah, dan sudah didahului oleh sebuah pertanyaan dengan judul Allah itu di mana? dalam buku Jendela Salikin Karya Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M.Si. Pengasuh Pondok Pesantren Al-karimiyyah Braji Sumenep dan Mantan Bupati Sumenep.
Abu Razim Laqith bin Amir Al-uqaili bertanya kepada Rasulullah SAW. Beliaupun menjawab “Dia berada dalam ‘Amaa’ (“ketinggian”) yang di atasnya dan di bawahnya terdapat udara, kemudian Dia menciptakan ‘ArsyNya di atas air” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah. Juz 1. Hlm. 31). Namun, Ulama Ahlus Sunnah menolak kalau dikatakan Tuhan di atas, bersemayam atau duduk di atas ‘Arsy, karena Tuhan tidak terikat dengan arah, tempat/ruang dan waktu. “Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy-Syura: 11). Kata ‘Amaa’ atau istawa (QS. Thaha : 5) bermakna menguasai, atau kita tafwidh, menyerahkan saja maknanya pada Allah yang Maha Suci, karena muhal bagi Allah berada dalam sesuatu atau berada diatas sesuatu (As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumil Quran, Juz 3, hlm. 15. dalam Jendela Salikin. Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M. Si. hlm. 1).
Dalam khazanah keilmuan Islam (dalam hal ini tasawuf) ‘aqidah ilahiyyah merupakan bagian penting dan tak terpisahkan. Kehadirannya senantiasa menjadi oase tersendiri bagi kejumudan dunia modern, sehingga tak jarang tasawuf ditafsir begitu luas, bebas, bahkan tak terhingga.
Beberapa tahun terakhir, sejak maraknya digitalisasi informasi, tasawwufpun menjadi perbincangan hangat berbagai kalangan dan lintas usia. Jika sebelumnya tasawuf cenderung tertutup dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh membicarakannya karena berbagai alasan, kini kajian tasawwuf sudah merebak di sana-sini. Berbicara tasawwuf sudah hal biasa namun tetap menarik, bahkan hal-hal yang bersifat eksistensi Tuhan terus diperbincangkan dalam berbagai plat form media sosial.
Kecenderungan lain dari digitalisasi informasi adalah kadang mengaburkan pandangan, mengacaukan pemikiran para nitezen, maka tak pelak mereka menanggapi dengan berbagai komentar, mulai dari yang serius hingga yang bernada destruktif, nyinyir, seakan-akan tasawwuf adalah ranah yang tidak boleh disentuh, atau bahkan menganggap tasawuf itu adalah jalan pintas menuju Tuhan.
Hal yang sangat fenomental dan kerap menjadi bahan diskusi dan pertanyaan awal adalah keberadaan Tuhan, Allah itu dimana? Apakah Allah itu bersifat indrawi, rasional, atau cukup dirasakan? (seperti perdebatan Ust. Muhammad Nuruddin, Lc. MA dan Guru Gembul yang viral di media sosial hingga saat ini).
Baik. Buku Jendela Salikin karya Dr. KH. Abuya Busyro Karim, M. Si. ini adalah jawaban tepat untuk membuka ruang kemungkinan selebar-lebarnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar tasawwuf. Buku ini membahas secara detil dan lengkap, bagaimana kajian maupun praktik tasawuf yang sangat dasar sekali tahap demi tahap. Sebut saja dalam judul Ijtiba’, Ibtila’, Khumul, I’timad, Ihthiyath (berhati-hati; ngastete ; baca Madura), dan Al-bukau (tangisan).
Zuhud misalnya, dalam buku ini bukan berarti antipati terhadap dunia, harta, atau jabatan, melainkan memiliki arti yang sangat spesifik. Zuhud itu bukan tidak punya harta, tapi harta itu ia kendalikan hanya untuk kepentingan umum, tidak untuk diri dan keluarga semata. Zuhud itu kosongnya hati dari harta, tapi yang ada di hati seseorang hanya Allah semata. Kata Ibnu Qayyim “jika harta itu ditanganmu, tidak di hatimu, pasti tidak akan membahayakan sekalipun banyak. Tapi jika harta di hatimu, pasti berbahaya sekalipun dintanganmu sedikit” (Ibnu Qayyim. Madarijussalikin. Juz 19. hlm. 469. Dalam Jendela Salikin. Dr. KH, Abuya Busyro Karim, M. Si. hlm. 6).
Buku dengan tebal 210 halaman ini juga membahas tentang beberapa teori tasawuf yang masyhur berkaitan dengan pendidikan karakter seorang salik; yaitu trilogi penyucian jiwa, Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Pertama Tkhalli. Bermakna pengosongan hati dari akhlak tercela yang bisa mengotori, berupa penyakit hati dan gangguan pikiran yang masih negatif. Kedua, Tahalli. Berarti pengisian. Setelah kosong, baru dilakukan pengisian dan menghiasi hati dengan sifat-sifat mahmudah , akhlaqul karimah, dan dengan dzikir kepada Allah. Ketiga, Tajalli (pancaran). Setelah hati kosong dari sifat tercela dan terisi dengan sifat baik, maka akan terkoneksi diri kita dengan Allah SWT. Di sinilah, manusia bisa mencapai derajat insan kamil, memancarkan cahaya Ilahi.
Selain trilogi di atas dalam bertasawuf juga ada konsep maqamat wal ahwal (kedudukan dan keadaan). Biasanya terdiri dari beberapa tingkatan, yakni Thaharah, Taubat, Wara’, Zuhud, Sabar, Tawakal, Ridla, dan Yakin. Sekali lagi, dalam buku Jendela Salikin ini juga dibahas, dengan sangat ringkas, kalimat yang mudah dipahami, serta menggunakan literasi tinggi/kuat atau referensi yang mu’tabarah.
Selain dilengkapi dengan doa-doa Ibnu Athaillah As-sakandari, buku ini mengajarkan sekaligus menjadi roadmap bagi para salik untuk bahan renungan, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub ilallah), yang Insyaallah, akan bermuara pada keselamatan dunia dan akhirat.
Maka, sesuai nama buku ini, Jendela Salikin. Artinya pintu/jalan khusus keluar bagi Salik yang mengalami kebuntuan bertasawuf, atau bias cahaya ilmu (cahaya ilahi) yang memancar dari balik pintu jendela para salik.
Selamat Membaca.
Resensator : Abd. Rahem
Alumni PP. Tarate Pandian Sumenep. Santri Nahdlatul Ulama. Wartawan Senior Sumenep. Khadim Kalam Abuya






