Di pagi yang diselimuti mendung dan rintik hujan, saya berbincang santai bersama teman-teman jurnalis di Kantor Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS). Obrolan sederhana itu perlahan menjelma menjadi diskusi serius, menyentuh berbagai persoalan dan diskursus yang tengah terjadi di negeri ini.
Pembicaraan kemudian mengerucut pada isu yang lebih spesifik: Kabupaten Sumenep, dengan segala kekayaan alam dan kearifan budayanya. Dari sekian perbincangan yang bertumpu pada pengamatan, pengalaman, serta dinamika pergantian kepemimpinan, muncul satu kesimpulan sementara: Sumenep seolah belum menemukan format pembangunan yang jelas dan berkelanjutan.
Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Kota Keris, kaya budaya dan melimpah sumber daya alam, realitas kesejahteraan masyarakatnya justru masih memprihatinkan. Ironisnya, banyak warga Sumenep yang terbilang sukses justru hidup dan berkembang di daerah lain. Mereka merantau, menjadi pedagang kelontong, pengusaha kecil, atau pekerja di kota-kota yang lebih menjanjikan.
Fenomena ini bahkan terlihat nyata di desa-desa. Tak sedikit desa yang tampak mapan secara ekonomi, dengan rumah-rumah megah bak istana. Namun, sebagian besar pemiliknya adalah para perantau. Beberapa waktu lalu, fenomena “kampung tajir” ini sempat viral di media sosial—sekilas terlihat makmur, tetapi sesungguhnya kesejahteraan itu lahir dari tanah rantau, bukan dari pengelolaan potensi lokal.
Mengapa harus merantau? Jawabannya sederhana namun pahit: lapangan pekerjaan di Sumenep sangat terbatas. Kesempatan kerja minim, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Padahal, secara geografis Sumenep memiliki keunggulan luar biasa, dengan 126 pulau dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
Sayangnya, potensi besar itu belum dikelola secara optimal. Keterbatasan sumber daya manusia, ditambah belum jelasnya arah kebijakan pembangunan daerah, membuat Sumenep seolah berjalan tanpa kompas. Di sisi lain, angka kemiskinan dan pengangguran masih tergolong tinggi dan memprihatinkan.
Lalu, ke mana arah masa depan Sumenep? Apakah dibutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar brilian dan berani mengambil terobosan? Dari diskusi itu, muncul beragam perspektif dan spekulasi yang seharusnya menjadi bahan renungan serius, terutama bagi pemerintah daerah dan para pemegang kebijakan di Kota Sumekar.
Salah satu pandangan yang mengemuka adalah pentingnya perencanaan pembangunan berbasis riset. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) harus menjadi motor penggerak pembangunan yang bertumpu pada data, penelitian, dan kajian ilmiah. Tanpa perencanaan berbasis riset, mustahil Sumenep dapat melompat lebih maju. Pembangunan akan terus berjalan tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas, dan berujung hampa—ibarat ungkapan “la yamutu wa la yahya”.
Padahal, jika dikelola secara serius dan fokus, Sumenep cukup berkonsentrasi pada tiga sektor unggulan: pertanian, perikanan, dan peternakan. Dengan basis penelitian, pengetahuan, serta sumber daya manusia yang mumpuni, tiga sektor ini diyakini mampu menjadikan Sumenep sebagai salah satu daerah terkaya di kawasan.
Bayangkan jika dilakukan hilirisasi, modernisasi, dan pengembangan secara konsisten pada ketiga sektor tersebut. Ditambah kultur masyarakat Sumenep yang relatif kondusif, bukan tidak mungkin daerah ini akan menjadi magnet bagi investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Melalui pemetaan potensi yang jelas, Sumenep memiliki wilayah unggulan pertanian, sentra peternakan, serta kawasan perikanan yang luas hingga ke wilayah kepulauan dengan kekayaan laut yang luar biasa. Jika dikelola dengan sungguh-sungguh, investor tidak akan ragu menanamkan modalnya di Sumenep.
Namun, realitas hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Peredaran rokok ilegal, penambangan ilegal, serta arus perantauan yang kian masif menjadi pemandangan yang lumrah. Sementara potensi pertanian, perikanan, dan peternakan dibiarkan stagnan, bahkan nyaris kehilangan regenerasi. Anak-anak muda lebih memilih pekerjaan instan: menjadi buruh, pekerja kantoran, atau merantau sebagai TKI ke luar negeri.
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa pemikiran matang dari semua pihak—pemerintah, tokoh masyarakat, maupun pemegang kebijakan—maka Sumenep akan terus berjalan di tempat. Jauh dari harapan untuk maju dan berkembang sebagaimana cita-cita bersama.
Wallahu a’lam bisshawab.
Pecinta Kopi Hitam







